Bab 6: Ketika Guru Merasa Sudah Tahu
Hari kedua di Tulungagung, Raka bangun sebelum azan Subuh, mengikuti kebiasaan lama yang dulu begitu melekat padanya sebagai santri: mandi dengan air yang masih dingin menusuk, berwudu di kolam kecil belakang masjid, lalu duduk paling depan menunggu iqamah. Ia merasa aneh sekaligus rinduposisi yang biasanya ia tempati sebagai imam dan pengajar, kini digantikan oleh kerinduan menjadi makmum, menjadi yang diajar.
Setelah salat Subuh dan wirid singkat, Ustadz Arif mengajaknya duduk di serambi masjid yang mulai disinari cahaya keemasan matahari pagi. Beberapa santri muda lewat sambil menunduk hormat, tidak menyadari bahwa lelaki paruh baya berpeci sederhana yang duduk di samping Ustadz Arif itu adalah seorang kyai pesantren dengan lebih dari seribu santri di Kalimantan.
"Hari ini kita bahas hikmah kedua," ucap Ustadz Arif sambil membuka kitab Al-Hikam yang semalam ditinggalkan Raka di kamarnya. Ia menunjuk sebaris kalimat Arab dengan jarinya yang mulai keriput.
Raka membacanya perlahan, lalu menerjemahkan: "Keinginanmu untuk melepaskan diri dari kehendak Allah kepadamu, itulah bentuk syahwat tersembunyi. Dan keinginanmu agar terus berada dalam kehendak
Allah, itulah puncak kejujuran batin."
Ia mengerutkan kening. "Maksudnya bagaimana, Ustadz? Bukankah kita memang harus terus berusaha dan berkembang?"
Ustadz Arif tersenyum, seperti sudah menduga pertanyaan itu akan muncul. "Coba ceritakan, Raka. Bagaimana perasaanmu setiap kali ada santri yang bertanya, dan kamu langsung tahu jawabannya tanpa perlu berpikir lama?"
Raka terdiam sejenak, mencoba jujur pada dirinya sendiri. "Rasanya... puas, Ustadz. Bangga, mungkin. Merasa berguna."