Bab 7: Dosa, Taubat, dan Harapan
Raka pulang ke Martapura setelah lima hari di Tulungagung, membawa kitab Al-Hikam yang kini penuh catatan tangannya sendiri di pinggir-pinggir halamannyakebiasaan yang ia tiru dari Ustadz Arif. Ia belum genap sehari kembali ke Darul Hikmah ketika Akmal mendatanginya dengan wajah tegang.
"Kyai," ucap Akmal setengah berbisik, "ada masalah serius. Salah satu santri, Ilham, kelas 2 Aliyah, ketahuan mengambil uang koperasi santri. Bukan sekali, Kyai. Sudah tiga kali dalam dua bulan terakhir, total hampir dua juta rupiah."
Raka menghela napas. Ini bukan kasus pertama pencurian di pesantren, namun setiap kali terjadi, rasanya selalu beratterutama karena menyangkut kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun.
"Di mana Ilham sekarang?"
"Itu masalahnya, Kyai. Dia menghilang sejak semalam. Pengurus asrama baru sadar pagi ini. Tasnya juga tidak ada. Kami khawatir dia kabur."
Raka segera mengumpulkan beberapa ustadz dan santri senior untuk mencari Ilham, mengecek kemungkinan ia pulang ke rumah orang tuanya di kampung nelayan tepi sungai, atau bersembunyi di sekitar area pesantren. Setelah hampir setengah hari pencarian, seorang santri menemukan Ilham duduk sendirian di bawah jembatan kayu tua, tempat dulu Raka dan Aisyah sering melintas semasa membangun pesantren ini.
Raka pergi sendiri menemuinya, meminta yang lain menunggu di kejauhan.
Ilham, remaja berusia enam belas tahun dengan mata sembab dan pakaian kusut, langsung menunduk begitu melihat kyai-nya mendekat.
"Maafkan saya, Kyai. Saya... saya nggak pantas jadi santri di sini lagi."
Raka duduk di sampingnya, tidak langsung bicara. Ia membiarkan keheningan berlangsung sejenak, mengingat pelajaran dari Ustadz Arif tentang mendengarkan sebelum menghakimi.