Bab 8: Allah Tidak Pernah Jauh
Beberapa hari setelah peristiwa Ilham, Raka mendapati dirinya kembali dalam rutinitas normal sebagai pemimpin pesantren, memimpin rapat pengurus, menerima tamu, mengawasi perkembangan pembangunan asrama putri tahap kedua. Namun ada sesuatu yang berbeda kini. Ia mulai membiasakan diri membuka kitab Al-Hikam setiap selesai salat Subuh, sebelum kesibukan hari dimulai, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan secara konsisten sebelumnya.
Suatu malam, setelah mengisi kajian rutin untuk santri senior tentang tafsir Surah Al-Baqarah, Raka pulang ke rumah dengan perasaan hampa yang anehpadahal kajian malam itu berjalan lancar, santri-santri tampak antusias, bahkan beberapa memberikan pertanyaan bagus yang menunjukkan mereka benar-benar menyimak.
Ia duduk di teras, seperti biasa, namun kali ini bukan Aisyah yang menemaninya lebih dulu, melainkan keheningan malam yang terasa berat.
Kenapa aku merasa jauh dari Allah, padahal seharian ini aku mengajar tentang-Nya? pikirnya.
Ia mengambil kitab Al-Hikam, membuka halaman yang belum sempat ia baca. Matanya tertuju pada sebuah kalimat: "Jika Dia membukakan bagimu pintu untuk mengenal-Nya, janganlah kamu pedulikan seberapa sedikit amalmu. Karena Dia tidak membuka pintu itu untukmu kecuali karena Dia ingin dikenal olehmu."
Kalimat itu membuatnya berhenti sejenak. Ia teringat perasaan hampa yang barusan ia rasakan, dan mulai bertanya-tanya: apakah rasa jauh yang ia rasakan itu benar-benar karena Allah menjauh darinya, ataukah karena ada sesuatu di dalam hatinya sendiri yang menghalangi?
Aisyah keluar membawa dua cangkir teh, duduk di sampingnya seperti biasa. "Kelihatannya Abi lagi mikir berat."
Raka menunjukkan kalimat yang baru saja ia baca kepada istrinya, lalu menceritakan perasaan hampa yang ia rasakan meski baru saja mengisi kajian yang menurutnya berjalan baik.