SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #12

Bab 11: Ketika Kesalehan Menjadi Kesombongan

Bab 11: Ketika Kesalehan Menjadi Kesombongan

Beberapa hari setelah percakapannya dengan Ustadz Maimun, Raka mendapati dirinya diliputi perasaan yang aneh sebuah kepuasan batin yang halus, yang awalnya ia kira sebagai rasa syukur, namun lama-lama terasa berbeda.

Setiap kali ia mengingat percakapan itu, ia merasa... bangga. Bangga karena berhasil menegur dengan bijak. Bangga karena Ustadz Maimun, seorang alim yang disegani, mau mendengarkan dan menangis di hadapannya. Bangga karena merasa dirinya kini "lebih paham" tentang bahaya hijab kesalehan dibanding kebanyakan orang di sekitarnya.

Ia menyadari kejanggalan itu pertama kali saat mengisi kajian Jumat malam, ketika tanpa sengaja ia menceritakan kisah Ustadz Maimun kepada para santri sebagai contoh pelajarantanpa menyebut nama, tentu saja, namun dengan detail yang cukup jelas hingga beberapa santri senior saling melirik, jelas mengenali siapa yang dimaksud.

Sepulang dari kajian itu, Raka duduk termenung di ruang kerjanya, merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri tanpa tahu persis mengapa. Ia membuka kitab Al-Hikam, mencoba mencari jawaban, namun kali ini pikirannya terlalu ramai untuk benar-benar meresapi bacaannya.

Ia teringat sesuatu yang aneh: setiap kali ia mengajarkan tentang bahaya ego dan kesombongan kepada orang lain, ada bagian dari dirinya yang justru merasa semakin unggulseolah dengan mengenali penyakit itu pada orang lain, ia sendiri sudah kebal darinya.

Astaghfirullah, batinnya. Jangan-jangan aku sedang mengulangi kesalahan yang sama, hanya dengan wajah yang berbeda.

Ia mengambil ponselnya, hendak menelepon Ustadz Arif, namun kemudian membatalkannya. Ada sesuatu yang terasa lebih tepat malam itu: bukan bertanya kepada guru, melainkan duduk sendirian dan benar-benar jujur kepada dirinya sendiri, seperti yang selama ini ia ajarkan kepada orang lain.

Lihat selengkapnya