Bab 12: Aisyah Bertanya
Malam Ahad, ketika kompleks pesantren mulai sepi dan kedua anaknya sudah lelap di kamar masing-masing, Aisyah mengajak Raka duduk berdua di halaman belakang rumah dinas mereka, tempat mereka biasa menanam beberapa pot sayur kecil di sela-sela kesibukan. Bulan bersinar terang malam itu, menerangi wajah keduanya yang duduk berdampingan di atas tikar sederhana.
"Abi," ucap Aisyah setelah beberapa saat hening, "boleh aku tanya sesuatu yang agak aneh?"
Raka menoleh, tersenyum. "Kamu sudah sering tanya hal-hal yang bikin aku mikir keras belakangan ini, Mi. Silakan."
Aisyah tersenyum kecil, lalu menatap suaminya lekat-lekat. "Kalau semua ini hilang pesantren, gelar Kyai, seribu dua ratus santri yang menghormati Abi, semua penghargaan dan undangan seminarsiapa
Raka yang tersisa?"
Pertanyaan itu menggantung di udara malam, dan untuk beberapa saat Raka tidak langsung menjawab. Ia menatap langit, mencoba mencari jawaban yang jujur, bukan jawaban yang terdengar bijak.
"Aku... nggak tahu, Mi," akunya akhirnya, suaranya pelan. "Selama ini identitasku selalu melekat sama peran-peran itu. Raka si santri berprestasi, Raka si analis investasi syariah, Raka si pendiri pesantren, Raka Kyai Darul Hikmah. Kalau semua label itu dicabut satu-satu... aku nggak yakin masih kenal siapa diriku."