SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #14

BAGIAN IV JALAN KEHAMBAAN Bab 13: Syariat

BAGIAN IV  JALAN KEHAMBAAN

Bab 13: Syariat

Suatu sore, seorang alumni Darul Hikmah bernama Yusuf datang berkunjung setelah lima tahun menghilang tanpa kabar. Dulu ia dikenal sebagai santri cerdas, hafal banyak matan kitab kuning, namun sejak lulus ia memilih merantau ke berbagai kota, mengikuti berbagai kajian tasawuf di luar jalur pesantren tradisional.

Kedatangannya kali ini disambut hangat oleh para santri yang masih mengenalnya, terutama karena Yusuf kini tampil dengan gaya bicara yang memukaupenuh kutipan-kutipan sufi, istilah-istilah "makrifat", "fana", dan "wihdatul wujud" yang membuat beberapa santri senior terkesima.

Malam itu, saat kumpul santai di serambi masjid setelah Isya, Raka mendengar sekilas percakapan Yusuf dengan beberapa santri kelas Aliyah.

"Sebenarnya," ucap Yusuf dengan nada penuh keyakinan, "kalau hati kita sudah sampai pada makrifat sejati, syariat itu jadi nggak terlalu penting lagi. Itu cuma tangga buat orang yang belum sampai. Kalau sudah sampai puncak, buat apa masih pegang tangga?"

Beberapa santri mengangguk-angguk, terpesona dengan kedalaman yang terdengar dari kata-kata itu. Namun Raka, yang mendengar dari kejauhan, segera mendekat dengan wajah tenang namun serius.

"Yusuf," sapanya, "boleh Abi gabung ngobrol?"

Yusuf sedikit terkejut, namun segera menyambut hangat mantan gurunya itu. "Tentu, Kyai. Kami lagi diskusi soal makrifat."

Lihat selengkapnya