SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #15

Bab 14: Taubat

Bab 14: Taubat

Yusuf memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Darul Hikmah, meminta izin kepada Raka untuk kembali merasakan ritme kehidupan pesantren yang sudah lama ia tinggalkan. Hari pertama dan kedua berjalan penuh semangatia rajin ikut salat berjamaah, bahkan bangun untuk tahajud, matanya masih sembab karena sering menangis menyesali waktu-waktu yang telah ia sia-siakan.

Namun pada hari ketiga, Raka mendapati Yusuf duduk murung sendirian di tepi kolam ikan pesantren, tidak ikut salat Ashar berjamaah. "Kenapa, Yusuf?" tanya Raka sambil duduk di sampingnya.

Yusuf menghela napas berat. "Saya capek, Kyai. Saya udah nangis berhari-hari, udah janji mau berubah, tapi tadi siang saya ngerasa males lagi buat salat tepat waktu. Rasanya taubat saya cuma emosi sesaat aja, nggak beneran nempel di hati."

Raka tersenyum, memahami kegelisahan itu. "Yusuf, kamu pikir taubat itu apa?"

"Kayaknya... nangis nyesel, terus janji nggak ngulangin lagi?"

"Itu bagian dari taubat," jawab Raka, "tapi bukan taubat itu sendiri. Nangis itu emosi, dan emosi itu naik-turun, wajar kalau hari ini kamu semangat, besok lesu lagi. Tapi taubat yang sesungguhnya itu bukan soal perasaan, Yusuf. Taubat itu soal arah."

"Arah gimana maksudnya, Kyai?"

Lihat selengkapnya