SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #16

Bab 15 : Zikir

Bab 15: Zikir

Setelah Yusuf pamit kembali ke kotanya dengan niat baru untuk membenahi hidupnya, kesibukan Raka kembali seperti sedia kalabahkan lebih padat dari biasanya. Musim penerimaan santri baru tahun ajaran depan sudah mulai, rapat dengan dinas pendidikan soal akreditasi madrasah, kunjungan rombongan dari kementerian agama, hingga persiapan wisuda tahfiz untuk lebih dari tiga puluh santri yang telah mengkhatamkan tiga puluh juz.

Di tengah kesibukan itu, Raka mendapati dirinya kembali ke pola lamabangun Subuh, salat, lalu langsung tenggelam dalam rapat dan urusan administratif hingga larut malam, dengan sedikit sekali waktu untuk benar-benar berzikir seperti yang ia niatkan sejak kunjungannya ke Tulungagung.

Suatu malam, setelah rapat panjang membahas anggaran wisuda yang membengkak, Raka duduk kelelahan di ruang kerjanya, merasa bersalah karena hampir seharian itu ia tidak sempat membuka kitab Al-Hikam sama sekali, apalagi berzikir dengan tenang.

Ia menelepon Ustadz Arif, mengeluh dengan jujur. "Ustadz, saya merasa gagal. Saya niat mau lebih dekat sama Allah, tapi kesibukan pesantren malah makin menjauhkan saya. Rasanya nggak ada waktu buat zikir yang benar-benar khusyuk."

Ustadz Arif tertawa kecil di seberang telepon, bukan mengejek, melainkan penuh kasih sayang. "Raka, kamu pikir zikir itu cuma bisa dilakukan sambil duduk tenang dengan tasbih di tangan?"

"Bukan begitu, Ustadz, tapi... kalau pikiran penuh sama urusan anggaran dan rapat, gimana caranya hati bisa fokus zikir?"

Lihat selengkapnya