Bab 16: Sabar dan Syukur
Hujan turun tanpa henti selama tiga hari berturut-turut di penghujung musim, dan pada dini hari keempat, air Sungai Martapura yang biasanya tenang mulai meluap, merendam sebagian area pesantren yang berada paling dekat dengan tepian sungaitermasuk gudang penyimpanan bahan makanan dan sebagian ruang kelas madrasah diniyah.
Raka terbangun oleh suara riuh santri-santri yang berlarian memindahkan barang-barang, dibantu para ustadz yang sudah sibuk sejak subuh mengevakuasi kitab-kitab dan peralatan belajar ke tempat yang lebih tinggi. Ia bergegas turun tangan, ikut mengangkat karung-karung beras dan dus-dus mi instan yang sudah mulai terendam air setinggi lutut.
Sepanjang pagi itu, seluruh pesantren dikerahkan bahu-membahu. Beberapa santri putri membantu menyiapkan makanan darurat di dapur yang lebih tinggi, sementara santri putra sibuk membuat tanggul sementara dari karung pasir di sekitar gudang dan asrama kelas satu yang paling rawan.
Menjelang siang, air mulai surut sedikit demi sedikit, namun kerusakan sudah terjadi: sekitar dua ton beras rusak terendam, puluhan meja dan kursi kelas rusak parah, dan beberapa kitab lama koleksi perpustakaan basah kuyup tak terselamatkan.
Akmal melaporkan kerugian itu dengan wajah lesu di ruang kerja Raka sore harinya. "Kalau ditotal, kerugiannya sekitar seratus lima puluh juta,
Kyai. Belum termasuk biaya perbaikan gedung."
Raka mendengarkan laporan itu dengan tenang, meski ia bisa merasakan beratnya angka tersebut bagi keuangan pesantren yang baru saja mengeluarkan dana besar untuk wisuda tahfiz bulan lalu.