SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #18

Bab 17: Tawakal

Bab 17: Tawakal

Sebulan setelah banjir, pengurus yayasan mengadakan rapat besar untuk membahas rencana jangka panjang: membangun tanggul permanen di sepanjang tepian pesantren yang berbatasan dengan Sungai Martapura, agar kejadian serupa tidak terulang di musim hujan berikutnya. Setelah dihitung, biaya proyek itu mencapai lebih dari tujuh ratus juta rupiah, jauh melampaui kemampuan kas yayasan saat itu, bahkan setelah bantuan dari alumni dan wali santri yang mengalir deras pasca-banjir.

"Kita bisa coba ajukan proposal ke dinas PUPR provinsi, Kyai," usul Akmal dalam rapat. "Ada program bantuan infrastruktur untuk fasilitas pendidikan di kawasan rawan banjir. Tapi prosesnya panjang, dan belum tentu disetujui."

Raka mengangguk. "Kita coba semua jalan yang mungkin. Siapkan proposalnya sebaik mungkindata teknis, foto dokumentasi kerusakan, surat dukungan dari wali santri dan tokoh masyarakat sekitar. Kita usahakan semaksimal mungkin."

Tim yayasan bekerja keras selama dua minggu berikutnya, menyusun proposal setebal puluhan halaman lengkap dengan gambar teknis dari seorang insinyur alumni yang bersedia membantu secara sukarela. Raka sendiri turun langsung, mengunjungi kantor dinas terkait di Banjarmasin, bertemu beberapa pejabat, menjelaskan urgensi proyek tersebut dengan penuh semangat.

Namun setelah semua usaha itu, jawaban yang didapat tidak langsung memuaskan: proposal mereka masuk daftar tunggu, bersaing dengan puluhan proposal lain dari berbagai daerah, dengan kepastian pencairan yang masih sangat tidak jelasbisa disetujui tahun ini, bisa juga ditunda hingga dua atau tiga tahun ke depan.

Malam sepulang dari Banjarmasin, Raka duduk lelah di teras rumah, menceritakan hasil pertemuan itu kepada Aisyah dengan nada agak kecewa.

"Rasanya udah usaha maksimal, Mi, tapi hasilnya masih menggantung.

Lihat selengkapnya