BAGIAN V KEHIDUPAN SEBAGAI GURU
Bab 18: Tubuh yang Mengajarkan Kehambaan
Setelah kesibukan panjang menangani banjir, mengurus proposal tanggul, dan kembali fokus pada persiapan tahun ajaran baru, Raka mendapati tubuhnya mulai memberikan sinyal-sinyal yang selama ini ia abaikan: sakit kepala yang tak kunjung reda, badan pegal meski tidak melakukan pekerjaan berat, dan nafsu makan yang perlahan menurun.
Ia mengira itu hanya kelelahan biasa, sesuatu yang bisa diatasi dengan istirahat sebentar dan segelas kopi hitam untuk menahan kantuk saat memimpin rapat. Namun pada suatu pagi, saat hendak memimpin salat Subuh, ia merasakan pusing hebat yang membuat pandangannya berkunang-kunang, dan sebelum sempat menyadari apa yang terjadi, tubuhnya limbung dan jatuh pingsan di depan mihrab, disaksikan puluhan santri yang baru saja mengambil saf.
Kepanikan langsung terjadi. Beberapa santri senior segera membawa Raka ke klinik pesantren, sementara yang lain berlari memanggil Aisyah dan menghubungi rumah sakit terdekat di Martapura.
Setelah pemeriksaan, dokter menyatakan Raka mengalami tifus akut disertai kelelahan ekstrem, akibat pola istirahat yang buruk selama berbulan-bulan dan sistem imun yang menurun drastis. Ia harus dirawat inap setidaknya selama seminggu, dengan larangan keras melakukan aktivitas berat apa pun.
Bagi seseorang yang terbiasa mengendalikan segala sesuatujadwal rapat, keputusan pesantren, arah kebijakan yayasankeharusan berbaring lemah di ranjang rumah sakit terasa seperti sebuah ironi yang menyakitkan sekaligus mengajarkan sesuatu yang dalam.