SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #21

Bab 20: Shalat yang Berubah Makna

Bab 20: Shalat yang Berubah Makna

Sebulan setelah sembuh total dari tifus, Raka kembali memimpin salat berjamaah di masjid pesantren seperti sedia kala. Namun para santri yang mengenalnya cukup dekat mulai memperhatikan sesuatu yang berbedabacaan-bacaan beliau terasa lebih pelan, jeda antar rakaat terasa lebih panjang, dan sujudnya sering kali berlangsung lebih lama dari biasanya.

Fauzan, santri senior yang kini menjadi semacam ajudan pribadi Raka, suatu hari bertanya dengan hati-hati, "Kyai, salatnya belakangan lebih lama ya, dibanding dulu sebelum sakit?"

Raka tersenyum. "Kamu ngerasa gitu? Coba jelaskan, apa yang kamu perhatikan?"

"Dulu Kyai imami salat cepat tapi tetap tenang, sekarang lebih... dalem rasanya, Kyai. Kadang santri-santri sampai lupa lagi rakaat keberapa saking khusyuknya ngikutin."

Raka mengangguk pelan, mengajak Fauzan duduk sebentar di serambi masjid setelah jamaah bubar. "Fauzan, kamu tahu, sebelum aku sakit, aku salat itu... jujur aja, sering kali cuma menjalankan kewajiban. Aku tahu bacaannya, aku tahu gerakannya, aku bahkan bisa mikirin agenda rapat sambil tetap khusyuk secara lahiriah di mata orang lain. Tapi hatiku sering kali nggak benar-benar ada di sana."

Lihat selengkapnya