Bab 21: Ketika Doa Tidak Sesuai Keinginan
Fauzan, santri senior yang selama ini setia mendampingi Raka, sejak beberapa bulan lalu diam-diam mempersiapkan diri untuk mendaftar beasiswa kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia belajar bahasa Arab tambahan setiap malam, menghafal juz-juz baru untuk memperkuat berkasnya, bahkan rutin melaksanakan salat tahajud dan puasa Senin-Kamis, berdoa sungguh-sungguh agar Allah memudahkan jalannya menempuh ilmu di sana.
Raka mengetahui usaha keras Fauzan itu dan turut mendoakannya, bahkan sempat menuliskan surat rekomendasi khusus sebagai pimpinan pesantren. Seluruh proses pendaftaran, tes, hingga wawancara daring dijalani Fauzan dengan penuh harap, dan santri-santri lain pun ikut mendoakannya dalam setiap kesempatan.
Namun tiga bulan kemudian, email pengumuman yang ditunggu-tunggu itu datang dengan kabar yang tidak diharapkan: Fauzan tidak lolos seleksi tahun itu, kalah bersaing dengan ratusan pendaftar lain dari seluruh Indonesia.
Fauzan menerima kabar itu dengan wajah pucat, mengurung diri di kamarnya sepanjang sore, tidak ikut kegiatan pesantren seperti biasa. Raka, yang mendengar kabar itu dari Akmal, segera menyempatkan waktu untuk menemuinya di sore hari menjelang Maghrib.
"Fauzan," ucap Raka lembut sambil duduk di samping tempat tidurnya,
"boleh Abi masuk?"
Fauzan bangkit dengan mata sembab, mencoba tersenyum meski jelas terlihat kecewa. "Maaf, Kyai. Saya cuma... butuh waktu sendiri sebentar."
"Nggak apa-apa," jawab Raka. "Abi ngerti perasaanmu. Kamu udah usaha keras banget selama ini."