Bab 22: Kehilangan
Telepon itu datang pada suatu malam Jumat, ketika Raka baru saja selesai mengimami salat Isya. Suara di seberang telepon adalah putra Ustadz Arif, bergetar dan tersengal.
"Kyai Raka... Abah baru saja berpulang. Setelah salat Maghrib tadi,
Abah bilang capek, terus tidur, dan nggak bangun lagi."
Raka terdiam, telepon di tangannya terasa berat seperti batu. Untuk beberapa detik, ia tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, hanya mendengar napasnya sendiri yang tiba-tiba terasa sesak.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un," akhirnya ia berucap, suaranya nyaris tak terdengar. "Saya... saya segera ke sana."
Malam itu juga, Raka memutuskan berangkat ke Tulungagung, meninggalkan Aisyah dan anak-anak dengan pesan singkat penuh air mata. Perjalanan yang biasanya terasa panjang kini terasa seperti mimpi buruk yang tak berujungsetiap menit menunggu penerbangan, setiap kilometer perjalanan darat dari Surabaya, terasa seperti waktu yang direntangkan sengaja untuk menyiksanya.
Ia tiba di Al-Falah menjelang siang, tepat sebelum jenazah dimakamkan. Halaman pesantren yang dulu terasa begitu tenang kini dipenuhi ratusan orangsantri, alumni, wali murid, tokoh masyarakat, semua datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang guru yang telah mendidik ribuan santri selama lebih dari empat dekade.