BAGIAN VI MEMAHAMI MAKRIFATULLAH
Bab 23: Makrifat Bukan Kesaktian
Beberapa minggu setelah kepergian Ustadz Arif, sebuah kabar aneh mulai beredar di sekitar Martapura: seorang pria bernama Kang Soleh, yang mengaku pernah berguru kepada banyak wali di Jawa, membuka pengajian rutin di sebuah rumah sederhana tidak jauh dari pesantren. Ia mengklaim memiliki karomahbisa melihat masa depan, menyembuhkan penyakit hanya dengan usapan tangan, bahkan mengaku bisa "membaca hati" orang yang datang kepadanya.
Dalam waktu singkat, pengajiannya ramai dikunjungi warga sekitar, termasuk beberapa santri Darul Hikmah yang diam-diam menyelinap keluar pesantren pada malam hari untuk mendengarkan ceramahnya, tergoda oleh cerita-cerita ajaib yang tersebar dari mulut ke mulut.
Raka mendengar kabar itu dari Fauzan, yang mengaku prihatin karena beberapa adik kelasnya mulai membicarakan Kang Soleh dengan penuh kekaguman, bahkan ada yang berencana meminta "azimat" darinya untuk kelancaran ujian akhir semester.
"Kyai," ucap Fauzan khawatir, "saya takut mereka salah paham soal makrifat. Kang Soleh ini sering bilang, orang yang udah makrifat itu pasti punya kesaktian, bisa lihat yang gaib-gaib, bisa nyembuhin penyakit. Beberapa santri jadi mikir, jangan-jangan itu tanda kedekatan sama Allah."
Raka menghela napas, teringat kembali percakapannya dengan Yusuf beberapa bulan lalu soal kesalahpahaman serupa, meski dalam bentuk yang berbeda. Ia memutuskan untuk mengumpulkan santri-santri yang terlibat, bukan untuk memarahi, melainkan untuk meluruskan pemahaman mereka.
Malam itu, setelah Isya, Raka mengadakan kajian khusus di masjid pesantren, membahas tema yang selama ini jarang ia angkat secara langsung.
"Anak-anak," ucapnya membuka kajian, "Abi dengar belakangan ini ada yang tertarik dengan pengajian Kang Soleh di kampung sebelah. Boleh