Bab 24: Semakin Mengenal, Semakin Merendah
Suatu pagi, Fauzan membawa sepucuk surat resmi ke ruang kerja Raka dengan wajah bersemangat. "Kyai, ini surat dari universitas yang dulu pernah nawarin gelar kehormatan itu. Mereka masih nunggu jawaban Kyai, katanya penganugerahannya bisa dilakukan bulan depan kalau
Kyai bersedia."
Raka menerima surat itu, membacanya perlahan. Ia teringat, surat serupa pernah datang hampir setahun lalu, di masa-masa awal kegelisahannyamasa ketika kata "sukses" masih terasa asing di lidahnya, masa ketika ia menunda-nunda keputusan karena belum tahu harus bersikap bagaimana terhadap pengakuan semacam itu.
Kini, setelah melewati perjalanan panjangHikmah demi Hikmah dari kitab Al-Hikam, kehilangan gurunya, kesalahan-kesalahan kecil yang ia sadari dan perbaiki satu per satuia membaca surat itu dengan perasaan yang jauh berbeda. Bukan lagi kegelisahan, namun juga bukan penolakan otomatis seperti yang mungkin diharapkan sebagian orang yang menganggap kerendahan hati berarti menolak segala bentuk pengakuan.
"Fauzan," ucapnya setelah membaca surat itu, "menurutmu, sebaiknya
Abi terima atau tolak?"