Bab 25: Khalifah dan Hamba
Musim pergantian kepengurusan Organisasi Santri Darul Hikmah tiba, dan seperti setiap tahun, para santri kelas akhir Aliyah memilih ketua baru untuk memimpin organisasi yang mengatur kegiatan harian ribuan santridari jadwal piket, kegiatan ekstrakurikuler, hingga penyelesaian masalah antar santri.
Tahun ini, terpilihlah Rafi santri yang beberapa bulan lalu sempat tertarik dengan pengajian Kang Soleh, namun kini telah tumbuh menjadi salah satu santri paling dihormati karena kesungguhannya belajar dan tanggung jawabnya yang besar. Setelah pelantikan resmi di lapangan utama, Raka memanggil Rafi dan seluruh pengurus baru untuk berbincang khusus di ruang kerjanya.
"Selamat, Rafi. Selamat juga untuk kalian semua," ucap Raka kepada belasan santri yang duduk mengelilinginya. "Mulai hari ini, kalian resmi jadi pemimpin bagi teman-teman kalian sendiri."
Rafi tersenyum bangga, meski juga tampak sedikit gugup dengan tanggung jawab barunya. "Terima kasih, Kyai. Saya akan berusaha sebaik mungkin."
"Sebelum kalian mulai bertugas," lanjut Raka, "Abi ingin tanya satu hal penting. Menurut kalian, apa bedanya jadi pemimpin dengan jadi bos?" Para santri saling berpandangan, mencoba mencari jawaban.
Salah satu pengurus baru, seorang santri bernama Hilmi, mencoba menjawab, "Mungkin... bos itu cuma nyuruh-nyuruh, sedangkan pemimpin ikut kerja bareng, Kyai?"