Bab 26: Tapa Ngrame
Beberapa waktu setelah pelantikan pengurus baru, Raka menerima kabar dari seorang alumni lama bernama Kang Dahlan santri angkatan awal Darul Hikmah yang kini memilih hidup menyepi di sebuah gubuk kecil di lereng pegunungan Meratus, jauh dari keramaian, hanya ditemani beberapa ekor kambing dan sepetak kebun sayur.
Kang Dahlan mengundang Raka untuk berkunjung, mengabarkan bahwa ia telah mencapai "ketenangan sejati" sejak meninggalkan hiruk-pikuk dunia beberapa tahun lalu. Penasaran sekaligus rindu dengan santri lama itu, Raka menyempatkan diri berkunjung bersama Fauzan pada suatu akhir pekan.
Perjalanan menuju gubuk Kang Dahlan memakan waktu hampir empat jam, melewati jalan setapak berbatu dan hutan lebat yang jauh dari sinyal telepon. Ketika akhirnya tiba, Raka mendapati sahabat lamanya itu tampak damai kulitnya kecokelatan terbakar matahari, tubuhnya kurus namun tampak sehat, dan matanya memancarkan ketenangan yang jarang ia lihat pada orang-orang yang sibuk dengan dunia.
"Raka," sambut Kang Dahlan hangat, memeluknya erat. "Akhirnya kamu datang juga."
Mereka duduk berbincang di teras gubuk sederhana itu, ditemani teh hangat dari daun-daun herbal yang ditanam Kang Dahlan sendiri. Kang Dahlan bercerita panjang lebar tentang kehidupannya bagaimana ia merasa jauh lebih dekat dengan Allah sejak meninggalkan segala kesibukan duniawi, bagaimana hatinya terasa lebih tenang tanpa harus berurusan dengan politik pesantren, tuntutan masyarakat, atau tekanan menjadi teladan bagi orang banyak.
"Kamu harusnya coba juga, Raka," ucap Kang Dahlan bersemangat. "Serahkan Darul Hikmah ke penerusmu, cari tempat sepi kayak gini. Di sini, aku bisa zikir berjam-jam tanpa gangguan, bisa benar-benar fokus sama Allah tanpa terpecah sama urusan dunia."