BAGIAN VII PERJALANAN PULANG
Bab 27: Aku Tidak Sedang Mencari Tuhan yang Hilang
Setahun tepat sejak subuh itu, subuh ketika Raka duduk sendirian di serambi masjid Darul Hikmah, digelayuti kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan, mempertanyakan apakah ia benar-benar mengenal Allah setelah delapan belas tahun mengajarkannya kepada orang lain, ia kembali duduk di tempat yang sama, pada waktu yang sama, menunggu iqamah seperti biasa.
Kabut tipis masih menggantung di atas atap-atap asrama, sama seperti setahun lalu. Suara seribu pasang sandal yang akan segera berderap di jalan setapak belum terdengar. Segalanya tampak samamihrab yang kosong di hadapannya, dinginnya lantai masjid yang menembus sarung, aroma khas subuh yang bercampur antara embun dan wangi kayu bakar dari dapur umum.
Namun Raka tahu, dirinya sendiri sudah sangat berbeda.
Ia mengingat kembali perjalanan panjang setahun terakhir: pertanyaan Kadijah yang mengguncang, perjalanan ke Tulungagung dan pelajaran-pelajaran Al-Hikam dari Ustadz Arif, kasus Ilham yang mengajarkannya tentang harapan, kesadaran akan hijab yang menyamar dalam berbagai bentukharta, ilmu, kedudukan, bahkan kesalehan itu sendiri. Ia mengingat Aisyah yang selalu menjadi cermin jujur baginya, Yusuf yang kembali ke jalan syariat, banjir yang mengajarkan sabar dan syukur sekaligus, sakit yang membuatnya belajar berdiri kembali seperti bayi, dan yang paling berat kepergian Ustadz Arif yang mengajarkannya arti kehilangan yang sesungguhnya.
Ia juga mengingat Kang Soleh yang tertangkap karena menipu dengan klaim kesaktian palsu, Rafi yang kini memimpin dengan kesadaran sebagai khalifah bukan penguasa, dan Kang Dahlan di lereng Meratus yang mengajarkannya, secara tidak langsung, bahwa jalannya sendiri bukan menjauh dari dunia, melainkan tapa ngrame, tirakat di tengah keramaian.