Bab 28: Aku Bukan Siapa-Siapa
Suatu Sabtu pagi, Darul Hikmah mengirimkan tim relawan untuk membantu program bakti sosial pemerintah daerah di sebuah desa terpencil di pinggiran Martapuradesa yang baru saja terdampak kekeringan panjang, membutuhkan bantuan air bersih dan sembako. Biasanya, dalam kegiatan seperti ini, Raka hadir sebagai tokoh yang diundang khusus, disambut dengan sambutan resmi, duduk di kursi kehormatan, diminta memberikan kata sambutan.
Namun kali ini, tanpa memberi tahu siapa pun kecuali Aisyah, Raka memutuskan untuk ikut sebagai relawan biasamengenakan kaus lusuh dan topi lebar, membaur bersama puluhan relawan lain dari berbagai organisasi, mengangkat karung-karung beras dan galon air bersih tanpa ada satu pun yang mengenalinya sebagai kyai pemimpin pesantren dengan lebih dari seribu santri.
Sepanjang hari itu, ia bekerja berdampingan dengan orang-orang biasaseorang mahasiswa yang ikut program KKN, seorang ibu rumah tangga yang aktif di organisasi sosial setempat, seorang pensiunan PNS yang mengisi waktu luangnya dengan kegiatan sukarela. Tidak ada yang bertanya siapa namanya secara khusus, tidak ada yang meminta ia memberikan tausiah, tidak ada yang mencium tangannya penuh hormat seperti biasa ia terima setiap hari di pesantren.
Ia hanya "Pak Raka", seorang relawan biasa yang membantu mengangkat barang, mendorong gerobak, dan sesekali bercanda ringan dengan sesama relawan tanpa embel-embel gelar apa pun.
Di tengah hari, saat istirahat makan siang bersama di bawah tenda darurat, seorang relawan muda bernama Doni duduk di sampingnya, mengobrol santai.
"Pak Raka kerja apa biasanya?" tanya Doni sambil menyantap nasi bungkus.
Raka tersenyum, sejenak mempertimbangkan bagaimana harus menjawab. "Saya kerja di bidang pendidikan," jawabnya sederhana, tanpa menyebutkan detail lebih jauh.