Bab 29: Aku Belum Sampai
Kabar tentang perjalanan spiritual Raka setahun terakhir meski tidak pernah ia ceritakan secara terbuka kepada publik perlahan menyebar dari mulut ke mulut di kalangan alumni dan wali santri, terutama setelah beberapa khutbah Jumatnya yang menyentuh hati banyak orang mulai direkam dan dibagikan di media sosial oleh santri-santri yang terkesan.
Suatu hari, seorang penerbit buku Islami dari Jakarta menghubungi Raka melalui Akmal, menawarkan untuk menerbitkan buku berdasarkan pengalaman hidupnyaperjalanan dari pimpinan pesantren yang gelisah hingga menemukan ketenangan lewat kitab Al-Hikam. Judul yang mereka usulkan terdengar menarik: "Rahasia Makrifat Sang Kyai: Kisah Perjalanan Menuju Allah."
Akmal membawa proposal itu dengan penuh semangat. "Kyai, ini kesempatan bagus. Bisa jadi inspirasi buat banyak orang. Penerbitnya juga besar, bisa dicetak ribuan eksemplar."
Raka membaca proposal itu dengan saksama, namun ada sesuatu dalam judul yang diusulkan itu yang membuatnya tidak nyaman. Ia meminta waktu beberapa hari untuk memikirkannya, lalu menyempatkan diri berdiskusi dengan Aisyah malam itu.
"Mi, menurutmu gimana kalau Abi nulis buku tentang perjalanan setahun terakhir ini?"
Aisyah tersenyum. "Menurutku itu bagus, Bi. Banyak yang bisa belajar dari pengalaman Abi."