SANTRI DI JALAN MAKRIFATULLAH

Prasetya
Chapter #31

Bab 30: Jalan yang Terus Berjalan

Bab 30: Jalan yang Terus Berjalan

Pagi itu, seperti pagi-pagi biasa, Raka bangun sebelum azan Subuh. Namun kebiasaannya kini sedikit berbeda dari setahun lalu sebelum bangkit dari tempat tidur, ia menyempatkan diri berbaring sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan mengucap syukur dalam hati karena masih diberi kesempatan membuka mata pagi itu.

Ia berwudu dengan tenang, tidak lagi terburu-buru seperti dulu, membiarkan setiap tetes air yang membasahi wajahnya terasa seperti pengingat kecil akan kesucian yang ia perlukan untuk menghadap Penciptanya. Ia memimpin salat Subuh dengan bacaan yang lebih pelan, jeda yang lebih panjang, hati yang lebih hadir kebiasaan yang telah menjadi bagian dari dirinya sejak masa pemulihan dari sakitnya.

Setelah salat dan wirid singkat, ia menyempatkan diri membuka kitab Al-Hikam, meski hanya membaca satu-dua halaman, sebuah rutinitas yang tidak pernah lagi ia tinggalkan sejak kunjungannya ke Tulungagung setahun lalu.

Pukul tujuh pagi, ia sarapan bersama Aisyah, Kadijah, dan Mohamaad Rasyid momen sederhana yang dulu sering ia lewatkan karena rapat pagi, namun kini ia jaga dengan sungguh-sungguh sebagai bagian dari ibadahnya kepada keluarga. Kadijah, kini dua belas tahun, bercerita tentang lomba kaligrafi yang akan diikutinya, sementara Rasyid yang delapan tahun sibuk menunjukkan gambar pesawat yang baru saja ia buat.

"Abi, doain aku menang lomba ya," ucap Kadijah sebelum berangkat sekolah.

Raka mengelus kepala putrinya dengan lembut. "Abi doain kamu ikhlas dan berusaha yang terbaik, Nak. Menang atau nggak, itu urusan Allah."

Pukul delapan, ia berjalan menuju kantor yayasan, disapa oleh santri-santri yang berpapasan dengannya. Ia masih menerima ciuman tangan penuh hormat dari mereka, namun kini dengan cara yang berbeda ia sering membungkuk sedikit lebih rendah, membalas dengan doa yang tulus, tidak lagi menerimanya sebagai sesuatu yang otomatis harus ia dapatkan karena kedudukannya.

Lihat selengkapnya