EPILOG
Pulang
Dua tahun telah berlalu sejak subuh gelisah itu subuh ketika seorang pemimpin pesantren dengan seribu santri duduk sendirian di serambi masjid, bertanya-tanya apakah ia benar-benar mengenal Allah setelah bertahun-tahun mengajarkannya kepada orang lain.
Kini, di pagi yang sama tenangnya, Raka Wijaya kembali berdiri di depan mihrab Darul Hikmah, mengimami salat Subuh bagi seribu dua ratus lebih santri yang telah menjadi bagian dari hidupnya. Suaranya masih sama, bacaannya masih sama indahnya, namun siapa pun yang mengenalnya cukup dekat akan tahu, ada sesuatu yang telah berubah selamanya di balik ketenangan itu.
Setelah salat, ia berjalan keluar masjid, disambut satu per satu oleh santri-santri yang mencium tangannya dengan penuh hormat. Di hadapan mereka, ia adalah Kyai Raka pemimpin yang membimbing ribuan jiwa muda menempuh jalan ilmu dan iman, sosok yang keputusannya menentukan arah pesantren yang telah menjadi rumah bagi begitu banyak orang.
Ia pulang ke rumah dinasnya, disambut Aisyah yang telah menyiapkan sarapan sederhana. Di hadapan istrinya, ia bukan lagi Kyai besar dengan segala kewibawaannyaia adalah Raka, suami yang setia mendengarkan keluh kesah, yang masih sama canggungnya seperti delapan belas tahun lalu setiap kali Aisyah tersenyum kepadanya.
Kadijah, kini tiga belas tahun dan mulai tumbuh menjadi gadis remaja yang cerdas dan berani bertanya, berlari menghampirinya sambil membawa piala juara kaligrafi yang baru saja ia menangkan. Mohamad Rasyid, delapan tahun, menarik-narik lengan ayahnya, meminta ditemani bermain sebelum berangkat sekolah. Di hadapan kedua anaknya, Raka bukan lagi sosok yang dihormati ribuan orang, ia hanyalah Abi, ayah yang berusaha selalu ada, meski dunia menuntutnya untuk selalu sibuk.