SINOPSIS
SANTRI PINGGIRAN
“Di era ketika semua orang ingin viral, seorang santri belajar menjadi benar tanpa harus terkenal.”
Raka Wijaya tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah hanya karena sebuah gawai yang disita.
Sebagai remaja dari Surabaya, Raka terbiasa dengan dunia yang selalu terhubung dengan layar. Baginya, tiga tahun di pesantren adalah hukuman dari ayahnya—jauh dari kebebasan, jauh dari internet, dan jauh dari kehidupan yang selama ini ia kenal.
Di Pesantren Al-Falah, Desa Tapan, Raka harus belajar hidup dengan aturan yang sama sekali berbeda. Gawai disita. Bangun sebelum subuh. Mengaji, belajar, mengikuti kegiatan pesantren, dan hidup bersama santri-santri lain yang memiliki latar belakang beragam.
Awalnya Raka ingin kabur.
Namun persahabatannya dengan Fajar, Doni, La Ode, dan santri lainnya perlahan membuatnya menemukan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari dunia maya: kebersamaan, keberanian, dan kesempatan untuk mengenal dirinya sendiri.
Tetapi ketenangan pesantren tidak berlangsung selamanya.
Sebuah video kontroversial tiba-tiba viral dan menyeret nama Pesantren Al-Falah. Raka dituduh sebagai orang yang berada di balik penyebaran video tersebut. Dalam hitungan jam, kehidupan pesantren berubah. Wartawan berdatangan. Para wali santri menuntut penjelasan. Nama baik pesantren dipertaruhkan.
Raka berada di titik terendah.
Ia harus menghadapi tuduhan, kehilangan kepercayaan, dan luka yang tidak terlihat. Di tengah tekanan itu, ia mulai memahami bahwa kebenaran tidak selalu datang bersama sorotan. Ada kalanya seseorang harus memilih tetap berdiri meskipun tidak ada yang bertepuk tangan.
Perjalanan Raka kemudian membawanya melewati berbagai pengalaman: ujian, lomba pidato, Ramadan, Porseni, kegiatan mading, persahabatan, konflik, pengakuan, hingga ruang dialog yang mempertemukan orang-orang dengan luka dan kepentingannya masing-masing.
Di pesantren itu, Raka bukan hanya belajar kitab dan pelajaran sekolah.
Ia belajar tentang kepercayaan, fitnah, kesalahan, keberanian meminta maaf, memaafkan, dan arti pulang.
Tiga tahun berlalu.
Ketika akhirnya meninggalkan gerbang Pesantren Al-Falah, Raka bukan lagi anak yang dulu datang dengan perasaan terpaksa. Ia membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kenangan: cara pandang baru terhadap kehidupan.
Namun kisah Raka belum benar-benar selesai.
Setahun setelah kelulusannya, ia kembali ke pesantren sebagai seorang tamu. Di sana ia bertemu Ilham, seorang santri baru yang ingin melarikan diri.
Raka tersenyum.
Ia pernah berada di posisi yang sama.
Dan saat itulah ia menyadari bahwa menjadi santri bukan semata-mata tentang berapa lama seseorang tinggal di pesantren. Menjadi santri adalah perjalanan panjang untuk belajar mengenal diri, menjaga kebenaran, dan tetap menjadi manusia yang baik ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
SANTRI PINGGIRAN adalah kisah tentang seorang remaja yang awalnya ingin melarikan diri dari pesantren, tetapi justru menemukan dirinya sendiri di sana.
Sebuah cerita tentang generasi yang tumbuh di antara gawai, viralitas, persahabatan, dan nilai-nilai kehidupan serta tentang keberanian untuk memilih menjadi benar, meskipun tidak terkenal.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
SINOPSIS
PROLOG — PESANTREN DIKEPUNG
BAB 1 — GAWAI DISITA
BAB 2 — RAZIA
BAB 3 — RENCANA KABUR
BAB 4 — TIGA BULAN
BAB 5 — BISIKAN DI BALIK TEMBOK
BAB 6 — SIAPA YANG PANTAS
BAB 7 — UJIAN TENGAH SEMESTER
BAB 8 — LOMBA PIDATO
BAB 9 — VIRAL
BAB 10 — FITNAH
BAB 11 — TITIK TERENDAH
BAB 12 — MEMULAI DARI AWAL
BAB 13 — GUDANG BELAKANG DAPUR
BAB 14 — MENGAMATI DARI JAUH
BAB 15 — PERSIAPAN PORSENI
BAB 16 — HARI PORSENI
BAB 17 — LIPUTAN MADING
BAB 18 — MALAM JUMAT
BAB 19 — YANG BELUM SELESAI DIUCAPKAN
BAB 20 — LUKA YANG TAK TERLIHAT
BAB 21 — KEPUTUSAN
BAB 22 — PENGAKUAN
BAB 23 — EVALUASI YAYASAN
BAB 24 — AYAH
BAB 25 — CERITA KANG BURHAN
BAB 26 — HARI RAYA DI TAPAN
BAB 27 — RUANG DIALOG
BAB 28 — PURNAMA DI SUNGAI TAPAN
BAB 29 — TAHUN-TAHUN TERAKHIR
BAB 30 — MALAM TERAKHIR