SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #2

BAB 2 RAZIA

BAB 2

RAZIA

 

Jam tiga pagi, suara ketukan besi ke besi menggema di lorong asrama. Bukan alarm HP yang biasa Raka matiin sekali sentuh. Ini suara yang nggak bisa disnooze.

"Bangun! Bangun! Qiyamul lail!" Suara itu diikuti langkah kaki cepat, pintu-pintu kamar dibuka satu,satu dari luar.

Raka kebangun setengah sadar, kepala masih pening. "...Jam berapa ini?"

"Jam tiga, bang. Normal," jawab Fajar dari ranjang bawah, suaranya udah kedengeran segar kayak orang yang emang biasa bangun jam segini. "Ayo, keburu diomelin Kang Burhan."

Raka turun dari ranjang dengan gerakan zombie. Kakinya kesandung sarung sendiri, hampir jatuh, bikin La Ode yang lagi ambil wudhu di kamar mandi nengok sebentar terus lanjut lagi kayak nggak ada apa-apa.

Udara subuh di Desa Tapan terasa jauh lebih dingin dari yang pernah Raka rasakan di Surabaya,kabut tipis menyelimuti halaman pesantren, embun membasahi rumput di sekitar jalan setapak menuju masjid. Dari kejauhan, samar terdengar suara kokok ayam jantan bersahutan dari rumah-rumah warga desa yang juga mulai bangun untuk persiapan ke sawah.

Di masjid, ratusan santri udah berbaris rapi buat qiyamul lail. Raka berdiri di barisan paling belakang, ngikutin gerakan orang di depannya kayak nyontek ulangan. Bacaan Al-Qur'an yang dilantunkan imam kedengeran syahdu, tapi kepala Raka masih dipenuhin satu pikiran: “notifikasi apa aja yang kelewat semalam.”

***

 

Setelah subuh dan ngaji kitab, waktunya sarapan. Antrian panjang di depan dapur umum, nasi sama sayur lodeh dalam piring seng.

"Kamu belum bisa baca kitab gundul?" tanya Doni, duduk di sebelah Raka sambil ngunyah, matanya sesekali melirik ke arah pintu dapur seperti menunggu seseorang.

"Aku SMA umum, Don. Bukan lulusan MI."

"Oh, pantesan," Doni mengangguk maklum, meski agak buru-buru, kayak pikirannya nggak sepenuhnya ada di obrolan ini. "Tenang aja, nanti juga kebiasa."

"Kamu nunggu siapa?" tanya Raka, memperhatikan Doni yang berkali-kali menoleh.

"Eh, nggak, nggak nunggu siapa-siapa." Doni buru-buru fokus lagi ke sarapannya. "Cuma... ngecek jadwal piket saja."

Raka mengangkat alis, tapi nggak mengejar lebih jauh. Baru hari kedua, dia belum cukup kenal siapa pun buat berani menuduh macam-macam.

Lihat selengkapnya