BAB 3
RENCANA KABUR
Tiga hari setelah bisikan malam itu, Fajar udah nyusun "rencana", kalau bisa disebut rencana. Core-coretan di kertas buku tulis, digambar kayak denah harta karun anak SD: gerbang belakang deket dapur, jam ronda yang kosong sekitar jam sebelas malam, dan jalan setapak tanah di pinggir kebun tebu yang tembus ke jalan desa beraspal tipis, lalu menyambung ke jalan raya kalau terus mengikuti alirannya sampai jembatan sungai kecil di ujung desa.
"Ini sih bukan rencana, Jar. Ini gambar mainan," bisik Raka pas mereka ngumpul diam-diam di belakang masjid, jam istirahat siang.
"Ya abis gimana lagi, bang. Gue juga belum pernah nyoba." Fajar menyipitkan mata, natap denahnya sendiri. "Tapi serius, ronda malam jam segitu emang paling longgar. Gue udah merhatiin tiga hari ini."
"Kok bisa kamu apal jadwal ronda, Jar?"
"Kakak kelas gue dulu pernah cerita, sebelum dia lulus," Fajar menjawab santai, seolah itu pengetahuan umum. "Katanya dulu dia sama temen-temennya juga pernah mikir kabur, tapi akhirnya nggak jadi juga."
"Kenapa nggak jadi?"
Fajar mengangkat bahu. "Nggak tau, bang. Nggak pernah nanya lebih lanjut. Tapi denger critanya, kayaknya ada kejadian yang bikin dia mikir ulang."
Raka mengangguk-angguk, meski dalam hati ada rasa yang aneh, antara pengen dan ragu. Tiap kali dia inget muka Ayahnya waktu nganter, rasa "pengen kabur" makin gede. Tapi tiap kali dia inget La Ode yang udah mulai ngajari dia gerakan kuda-kuda tambahan sore-sore, atau Doni yang janji ngajari baca kitab gundul, ada sesuatu yang bikin dia ragu.
"Kamu ikut, kan?" tanya Raka.
Fajar diam sebentar, lama banget sampai Raka mulai nggak sabar.
"...Nggak, bang."
"Hah? Lah terus ini rencana kabur buat siapa?!"
"Buat lu. Gue cuma bantuin bikin denah." Fajar nyengir, tapi matanya nggak seceria biasanya. "Gue di sini bukan dipaksa, bang. Gue yang minta mondok. Rumah gue... yaudahlah, nggak usah diceritain. Yang jelas, di sini gue ngerasa lebih tenang."
Raka kaget. Selama ini dia pikir semua santri di sini sama kayak dia, dipaksa, korban keputusan orang tua. Ternyata nggak.
"Sori, gue kira ....,"
"Santai, bang. Nggak semua orang ceritanya sama."Fajar berdiri, ngebuang denah kabur ke saku. "Tapi kalau lu emang mau kabur, gue tetep bantuin. Sohib, kan."
Sebelum mereka bubar, Raka sempat melihat sekilas, dari balik jendela kelas kosong di ujung koridor, sosok kurus tinggi yang sama dengan yang dia lihat di lapangan silat kemarin, buru-buru menghilang begitu Raka menoleh ke arah sana.
"Jar, kamu liat itu nggak?"
"Liat apa?"