BAB 4
TIGA BULAN
Minggu-minggu setelah insiden gerbang belakang, Raka jalani harinya dengan cara yang beda, bukan karena dia udah menyerah, tapi karena dia inget janji ke Ustadz Arif. Tiga bulan. Dia hitung mundur diam-diam, ada di kepalanya kayak countdown yang dulu biasa dia pasang buat rilis game favorit.
Bedanya, sekarang dia juga mulai, entah kenapa, penasaran sama apa yang bakal terjadi kalau dia beneran coba.
"Lu kelihatan beda, bang," komentar Fajar suatu pagi, sambil ngeliatin Raka yang lagi coba baca kitab kuning tanpa harakat, dibantuin Doni yang duduk di sebelahnya.
"Beda gimana?"
"Nggak tahu. Lebih... santai? Dulu lu kayak orang yang lagi ditahan paksa. Sekarang kayak, yaudahlah gitu."
Raka mikir sebentar. "Mungkin karena udah nggak mikir kabur lagi. Jadi energinya bisa dipakai buat hal lain."
***
Salah satu "hal lain" itu adalah silat. Setelah insiden malam itu, ada sesuatu yang berubah antara Raka dan Kang Burhan, bukan langsung akrab, tapi ada rasa saling menghargai yang nggak ada sebelumnya.
"Kuda-kudamu udah lumayan," kata Kang Burhan suatu sore, natap Raka yang lagi latihan sendiri di lapangan setelah kelas selesai. "Tapi nggak cukup cuma kuat. Harus luwes."
"Luwes gimana, Kang?"
Kang Burhan turun tangan, nunjukin gerakan yang kelihatan simpel tapi susah ditiru. "Silat itu bukan soal siapa yang paling kuat. Tapi siapa yang paling ngerti cara ngatur tenaga."
Raka mencoba niru, masih oleng, tapi kali ini Kang Burhan nggak nyindir kayak minggu pertama. Malah sabar ngebenerin posisi kaki, tangan, sampai akhirnya Raka bisa nahan kuda-kuda lebih lama.
Di sela latihan, seorang santri kelas atas lewat sambil menenteng tas besar, Yusuf, nama yang belum Raka kenal dekat waktu itu. Wajahnya murung, matanya sembap seperti habis menangis atau menahan tangis. Kang Burhan sempat menghentikan latihan sebentar, menatap Yusuf dengan ekspresi yang sulit dibaca, bukan galak, tapi juga bukan biasa saja.
"Kenapa dia, Kang?" tanya Raka pelan.
"Bukan urusanmu," jawab Kang Burhan, singkat tapi nggak ketus. "Fokus kuda-kudamu."
Raka menurut, tapi diam-diam menyimpan pertanyaan itu di kepalanya. Ada sesuatu di raut Yusuf yang terasa lebih berat dari sekadar "senior galak" yang selama ini jadi kesan orang-orang tentang dia.
***