SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #5

BAB 5 BISIKAN DI BALIK TEMBOK

BAB 5

BISIKAN DI BALIK TEMBOK

 

Sabtu sore, jam bebas, satu-satunya waktu dalam seminggu di mana santri boleh nongkrong santai di area taman pesantren tanpa jadwal ketat. Raka duduk di bawah pohon mangga bareng Fajar dan Doni, sementara La Ode sibuk latihan sendiri nggak jauh dari situ. Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak desa bermain di pinggir sungai kecil sebelah pesantren, sesekali disusul suara ibu-ibu memanggil pulang untuk mandi sore.

"Eh, bang," bisik Doni, mendekatkan badannya kayak mau ngomong rahasia negara. "Kamu inget obrolan soal santri yang punya akun rahasia?"

Raka menegang sedikit. "Inget. Kenapa?"

"Aku tahu siapa orangnya."

Raka sama Fajar langsung noleh bareng.

"Serius?" Fajar hampir teriak, untung buru-buru diredam sendiri.

"Sssst. Serius." Doni menurunkan suaranya lebih lagi. "Tapi aku nggak enak nyebut nama. Dia anak kelas atas."

"Kurus, tinggi, kulitnya agak gelap?" potong Raka cepat.

Doni kaget, matanya melebar. "...kamu kok tahu?"

"Aku ngelihat dia beberapa kali. Di lapangan silat, terus di jendela kelas kosong." Raka menatap Doni lekat.

"Don, jujur. kamu tahu lebih banyak dari yang lu ceritain, kan?"

Doni terdiam, tangannya meremas ujung sarungnya sendiri. "Bang... gue emang tahu sedikit. Tapi gue takut kalau gue ceritain semuanya, gue ikut kena masalah. Gue butuh beasiswa ini, bang. Gue nggak kayak lu yang orang tuanya bisa bayar penuh."

Raka terdiam, baru sadar ada beban yang selama ini nggak dia pikirkan, buat Doni, pesantren ini bukan cuma tempat "dibuang" seperti awalnya dia rasakan, tapi satu-satunya jalan buat masa depannya.

Lihat selengkapnya