BAB 6
SIAPA YANG PANTAS
Latihan silat sore itu beda dari biasanya. Bukan cuma santri baru, tapi juga santri kelas atas ikut gabung buat persiapan pertandingan antar, kamar yang bakal diadakan bulan depan. Raka, yang belakangan makin sering dipuji Kang Burhan soal kemajuannya, ditunjuk jadi salah satu perwakilan Kamar 7 buat pertandingan itu, posisi yang biasanya "milik" santri senior.
"Kenapa Raka?" salah satu santri kelas atas namanya Yusuf, protes langsung di depan semua orang. "Dia kan santri baru, Kang. Belum setahun." Logat Yusuf medok khas Tulungagung asli, salah satu dari sedikit santri yang justru berasal dari kabupaten yang sama dengan lokasi pesantren, dari Kecamatan Campurdarat yang terkenal sebagai sentra kerajinan marmer dan onyx.
Raka baru sadar, Yusuf adalah santri yang sama yang dia lihat murung dan matanya sembap beberapa minggu lalu, dekat lapangan silat.
"Aku yang pilih," jawab Kang Burhan tegas, nggak ada nada ragu. "Kalau kamu merasa lebih pantas, buktikan di lapangan, bukan di mulut."
Yusuf diam, tapi wajahnya jelas nggak terima. Sejak saat itu, suasana di antara santri senior sama Raka jadi agak dingin,bukan cuma dari Yusuf, tapi beberapa temennya juga mulai kasih sindiran-sindiran kecil.
***
Puncaknya terjadi tiga hari kemudian. Raka baru selesai piket malam, jalan sendirian ke arah kamar, pas dicegat Yusuf dan dua temannya di lorong yang agak gelap.
"Santri baru, sok jago," kata Yusuf, nada mengejek. "Ganteng-ganteng doang, kan? Pantesan Kang Burhan seneng."
"Aku nggak minta dipilih, Kang. Kang Burhan yang milih sendiri," jawab Raka, mencoba tenang meski jantungnya mulai berdebar.
"Halah, paling ya modal muka doang." Salah satu teman Yusuf ketawa sinis.
Raka diam, menahan emosi. Tapi ada suara di kepalanya yang bilang buat nggak gampang kepancing.
"Kang, aku nggak nyari masalah. Aku cuma jalanin apa yang disuruh."
"Halah, sok alim," Yusuf maju selangkah, dorong bahu Raka pelan tapi cukup buat bikin Raka mundur satu langkah. "Awas aja kalau lu tampil jelek pas pertandingan."
Di tengah dorongan itu, HP kecil terjatuh dari saku salah satu teman Yusuf, bukan HP Yusuf sendiri, tapi milik salah satu temannya yang buru-buru mengambilnya kembali dengan gerakan panik yang nggak proporsional untuk sekadar HP jatuh biasa.
Raka memperhatikan itu, tapi nggak sempat mikir lebih jauh karena suara langkah kaki dari ujung lorong bikin Yusuf dan teman-temannya buru-buru mundur, Ustadz Arif kebetulan lewat abis dari kantor.
"Ada apa ini?" tanya Ustadz Arif, natap satu-satu wajah yang kelihatan tegang.