BAB 7
UJIAN TENGAH SEMESTER
Di tengah rutinitas silat, kewirausahaan, dan mengaji, Raka nyaris lupa bahwa dia tetap seorang murid sekolah formal yang harus menghadapi ujian tengah semester seperti siswa pada umumnya, bedanya, di sini persiapan ujian harus diselipkan di antara jadwal yang sudah padat merayap dari subuh sampai malam.
"Bang, lu udah belajar Matematika belum?" tanya Fajar suatu malam, wajahnya panik menatap buku catatan yang masih kosong separuh. "Besok ujian, gue belum ngerti sama sekali soal barisan aritmatika."
"Belum sepenuhnya," jawab Raka, meski dia sendiri lebih percaya diri soal pelajaran umum dibanding kitab kuning. "Tapi coba sini, aku jelasin."
Malam itu, kamar 7 berubah jadi ruang belajar dadakan. Raka mengajari Fajar dan La Ode soal-soal Matematika dengan cara yang lebih santai, menggunakan analogi jualan gorengan Doni -untuk menjelaskan konsep barisan dan deret.
"Jadi gini," Raka menggambar di kertas buram, "kalau Doni jualan hari pertama laku sepuluh, terus tiap hari nambah tiga, itu namanya barisan aritmatika. Nah, kalau ditanya total keuntungan sampai hari ke-sepuluh, itu yang namanya deret."
"Oh, jadi kayak nabungnya Doni yang makin lama makin banyak?" La Ode manggut-manggut, mulai paham.