BAB 11
TITIK TERENDAH
Tiga hari berturut-turut, Raka ngerasa kayak jadi orang asing di tempat yang udah mulai dia anggap rumah. Santri-santri lain masih pada bisik-bisik kalau dia lewat, beberapa bahkan sengaja jauh-jauh nggak mau duduk semeja pas makan.
Puncaknya terjadi Kamis sore, pas Pak Kiai mengumumkan bahwa pertandingan silat antar, kamar ditunda tanpa batas waktu, sampai "situasi kondusif kembali."
"Ini gara-gara aku," gumam Raka, duduk sendirian di tangga masjid setelah pengumuman itu, kepalanya berat.
Kang Burhan, yang kebetulan lewat abis dipanggil lagi ke kantor Pak Kiai buat investigasi lanjutan, berhenti sebentar, natap Raka yang kelihatan kuyu.
"Nggak semua ini salahmu, Ka."
"Tapi kalau aku nggak ikut tanding, mungkin nggak bakal ada video itu."
Kang Burhan diam sesaat, terus duduk di sebelah Raka. "Aku juga disuruh berhenti melatih sementara, sambil diinvestigasi. Padahal, kekerasan yang dilakukan Yusuf itu bukan bagian latihan normal."
"Kang, boleh aku tanya sesuatu?" Raka menatap Kang Burhan. "Waktu itu, malam aku sama Fajar ketahuan mau kabur, Kang Burhan sempat lihat ke arah dapur, kayak ada yang lain di sana. Itu apa, Kang?"
Kang Burhan terdiam cukup lama, seolah mempertimbangkan sesuatu. "...Aku juga nggak yakin, Ka. Waktu itu aku denger suara langkah lain, tapi pas aku cek, udah nggak ada siapa-siapa. Aku pikir cuma kucing atau angin."
Jawaban itu nggak sepenuhnya melegakan Raka, malah menambah satu lapis misteri baru yang belum terpecahkan.
***
Sabtu itu kebetulan jadwal hari jenguk bulanan, dan meski suasana pesantren sedang kacau, kegiatan itu tetap berjalan sesuai jadwal. Halaman depan pesantren dipenuhi tikar-tikar yang digelar keluarga, bekal makanan dari rumah, dan suara riuh anak-anak yang datang menjenguk kakak atau saudaranya.
Raka duduk di salah satu sudut, menunggu dengan gelisah, dia sudah dengar dari Doni bahwa Ibunya datang jauh-jauh dari Surabaya, sementara Ayahnya tidak bisa ikut karena ada urusan kerja mendadak.
Ibunya muncul dari arah gerbang dengan wajah cemas yang coba disembunyikan di balik senyum, membawa rantang berisi rawon kesukaan Raka dan sekantong kerupuk yang selalu dibawanya setiap kali menjenguk.
"Le," Ibunya memeluknya erat begitu sampai, lebih lama dari biasanya. "Ibu denger dari Ayahmu, ada masalah video-video itu. Kamu baik-baik aja?"
"Aku nggak apa-apa, Bu," jawab Raka, mencoba terdengar tenang meski dadanya masih penuh. "Cuma difitnah aja. Lagi diusahain buat diberesin."
Ibunya menatapnya lama, matanya penuh kekhawatiran yang tidak sepenuhnya bisa ditutupi kata-kata menenangkan. "Ibu sempat mau minta Ayahmu buat langsung jemput kamu pulang aja, Le. Tapi Ayahmu bilang, biar kamu yang putuskan sendiri."
"Aku nggak mau pulang, Bu. Belum sekarang." Raka menggenggam tangan Ibunya. "Aku harus buktiin dulu, aku nggak salah."
"Ibu percaya kamu, Le. Dari dulu kamu nggak pernah bohong sama Ibu, walaupun kamu nakal soal HP itu." Ibunya tersenyum kecil, mengusap kepala Raka seperti saat dia masih kecil. "Ibu cuma khawatir aja."
Mereka menghabiskan waktu satu jam yang diizinkan sambil makan bersama, Raka menceritakan sebagian, tidak semua dari apa yang sedang dia hadapi, sengaja menahan diri agar Ibunya tidak semakin cemas.