BAB 13
GUDANG BELAKANG DAPUR
Malam itu, setelah lampu kamar dipadamkan dan suasana asrama mulai sepi, Raka dan Fajar menyelinap keluar, kali ini bukan menuju gerbang, tapi ke arah gudang tua di belakang dapur, tempat yang sama yang disebut Umar.
Langkah mereka melewati kebun kecil tempat para santri biasa piket bercocok tanam sayur untuk dapur umum, bayang-bayang daun singkong dan terong bergoyang pelan diterpa angin malam. Dari kejauhan, sayup terdengar gonggongan anjing kampung dan sesekali suara jangkrik yang seperti tak pernah berhenti sejak matahari terbenam.
"Lu yakin ini aman, bang?" bisik Fajar, matanya was-was ke sekeliling.
"Nggak yakin. Tapi kita udah di sini." Raka mengintip dari balik tumpukan kayu bakar di dekat gudang, jantungnya berdebar kencang.
Nggak butuh waktu lama sampai dua sosok muncul dari arah asrama, berjalan hati-hati menuju gudang. Salah satunya jelas terlihat, badan gempal, wajah yang Raka kenali sebagai teman Yusuf yang HP-nya jatuh di lorong waktu itu. Satu lagi lebih kurus, wajahnya samar tertutup bayangan.
Raka dan Fajar saling pandang, menahan napas, mengintip dari celah kayu.
"Udah bawa?" tanya si gempal, suaranya pelan tapi masih terdengar di kesunyian malam.
"Bawa. Tapi ini terakhir, ya. aku udah capek deg-degan tiap razia." Sosok kurus itu mengeluarkan sesuatu dari balik sarungnya, bukan HP seperti yang Raka duga, tapi bungkusan kecil yang begitu dibuka, tercium bau menyengat rokok.
"Ini aja?" Si gempal terdengar kecewa. "Ku kira lu punya lebih."
"Susah, coy. Yang jaga gerbang belakang makin ketat gara-gara masalah video kemarin. Aku aja nyaris ketangkep pas nyelundupin ini dari luar."