BAB 14
MENGAMATI DARI JAUH
Dua hari berikutnya, Raka menghabiskan waktu luangnya diam-diam memperhatikan Rizal dari jarak aman, di perpustakaan tempat Rizal biasa membantu beres-beres, di kantin saat jam makan, bahkan di masjid saat sholat berjamaah.
Dia mulai membuat semacam jadwal pengamatan tak resmi di buku catatannya, jam berapa Rizal biasanya ke perpustakaan, kapan dia terlihat paling gelisah, siapa saja yang pernah dia ajak bicara. Metode yang, dia sadari sendiri, terdengar berlebihan untuk anak seusianya, tapi entah kenapa terasa perlu di tengah tekanan waktu yang terus mendesak dari ancaman tenggat yayasan.
Rizal ternyata sosok yang pendiam, jarang bicara kecuali perlu, sering menyendiri di sudut perpustakaan sambil membaca atau merapikan rak buku. Nggak ada yang mencolok dari perilakunya, sampai suatu sore, Raka melihatnya buru-buru menyembunyikan sesuatu ke balik tumpukan buku begitu ada ustadz lewat.
Raka mendekat pelan-pelan setelah ustaz itu berlalu, berpura-pura mencari buku di rak yang sama.
"Rizal, ya?" sapa Raka, senyum dibuat senormal mungkin.
Rizal terlihat kaget, tangannya refleks menutupi tumpukan buku tadi. "...Iya. Ada apa?"
"Nggak ada apa-apa, cuma mau kenalan. Aku Raka."
"Aku tahu," jawab Rizal singkat, matanya menghindar. "Semua orang tahu, kan. Kamu yang di video itu."
Ada nada yang sulit dibaca dalam kalimat itu, bukan sinis, tapi juga bukan simpatik. Sesuatu yang lebih dekat ke rasa waspada.