SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #16

BAB 16 HARI PORSENI

BAB 16

HARI PORSENI

 

Hari pelaksanaan Porseni tiba dengan langit cerah, meski udara pagi di Desa Tapan masih terasa dingin berkabut tipis dari sawah-sawah sekitar. Seluruh santri Al-Falah yang tidak ikut bertanding pun dikerahkan untuk memberi dukungan, berangkat rombongan naik dua bus sewaan menuju GOR kabupaten di pusat kota Tulungagung, sekitar empat puluh menit perjalanan dari pesantren.

Sepanjang perjalanan, suasana bus dipenuhi yel-yel semangat yang dipimpin Fajar, yang meski tidak ikut bertanding, mengambil peran sebagai "ketua suporter" dengan penuh semangat.

"Al-Falah, Al-Falah, jaya jaya jaya!" teriaknya, diikuti tepuk tangan berirama dari santri-santri lain, membuat suasana bus riuh sepanjang perjalanan.

Raka duduk di dekat jendela, menatap pemandangan kota Tulungagung yang mulai terlihat, berbeda dari suasana desa yang selama ini menjadi rumahnya, jalanan lebih lebar, toko-toko berjejer, dan GOR besar yang menjulang di kejauhan sebagai tujuan mereka.

***

 

GOR kabupaten dipadati puluhan pesantren dari seluruh Tulungagung, masing-masing dengan seragam dan atribut khas mereka sendiri. Suasana kompetitif namun tetap penuh persaudaraan terasa di udara, beberapa santri dari pesantren berbeda bahkan sempat bertukar sapa dan cerita sebelum pertandingan dimulai, mengingat banyak dari mereka yang berasal dari kabupaten yang sama, hanya berbeda kecamatan.

Kategori silat kelas remaja putra, tempat Raka bertanding, dijadwalkan siang hari. Sepanjang pagi, dia dan tim menyaksikan cabang-cabang lain terlebih dahulu, termasuk tim tilawah Al-Falah yang tampil memukau, dan tim kaligrafi yang karyanya dipamerkan di salah satu sudut GOR, menarik perhatian banyak pengunjung dengan detail rumit huruf-huruf Arab yang dihias motif khas Jawa Timuran.

"Bang, gimana perasaan lu?" tanya Fajar, menemani Raka melakukan pemanasan terakhir di ruang tunggu atlet.

Lihat selengkapnya