SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #18

BAB 18 MALAM JUMAT

BAB 18

MALAM JUMAT

 

Raka inget kata-kata Doni waktu masih akrab dulu, soal hari Jumat jadi waktu paling longgar penjagaan, saat tukang kebun biasa keluar-masuk dan wali santri boleh berkunjung. Kalau Rizal benar-benar masih aktif dengan akunnya, malam Jumat adalah waktu paling mungkin dia bergerak.

Sepanjang sore itu, Raka sengaja menghindari kegiatan kelompok, memilih menyendiri di perpustakaan sambil pura-pura membaca, matanya sesekali melirik ke arah meja tempat Rizal biasa merapikan buku. Tapi Rizal tidak muncul sama sekali sepanjang hari, membuat kecurigaan Raka makin menguat bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu.

"Lu yakin mau nunggu semaleman, bang?" bisik Fajar, keduanya bersembunyi di balik pohon dekat jalan menuju pos tukang kebun, jam menunjukkan hampir sebelas malam.

"Nggak yakin. Tapi ini kesempatan terakhir sebelum tenggat dari yayasan habis." Raka menatap ke arah pos kecil di ujung kebun, satu-satunya bangunan dengan lampu masih menyala.

Sekitar dua puluh menit kemudian, sebuah bayangan muncul dari arah asrama, berjalan cepat dan hati-hati menuju pos itu. Begitu bayangan itu masuk ke bawah cahaya lampu, Raka mengenali wajahnya dengan jelas.

Rizal.

Dia mengetuk pintu pos tukang kebun dengan pola tertentu, dan setelah beberapa saat, pintu terbuka sedikit. Dari kejauhan, Raka dan Fajar bisa melihat Rizal menerima sesuatu dari dalam, sebuah HP, lalu buru-buru menjauh ke sudut gelap dekat pagar, mulai mengetik dengan cepat, wajahnya diterangi cahaya layar.

"Sekarang," bisik Raka, dan mereka berdua bergerak mendekat, langkah-langkah pelan menyusuri bayangan pohon.

Rizal baru sadar ada orang lain ketika Raka sudah berdiri hanya beberapa meter darinya.

Lihat selengkapnya