BAB 19
YANG BELUM SELESAI DIUCAPKAN
Sepanjang hari, Rizal nggak kelihatan di perpustakaan, nggak juga di kelas. Raka mulai khawatir, jangan-jangan ketakutan semalam membuatnya melakukan sesuatu yang lebih buruk, entah kabur atau lebih parah lagi.
Menjelang maghrib, Doni, yang meski masih agak canggung sejak kejadian tuduhan salah itu, tetap mau membantu ketika Raka menjelaskan situasinya dengan jujur, memberi petunjuk.
"Coba cek gudang tua deket kebun belakang, bang. Tempat yang dulu aku tunjukin ke kamu buat ketemu... yah, kamu tau lah." Doni masih belum sepenuhnya nyaman menyebut detail itu, tapi setidaknya dia mau membantu.
Raka berterima kasih, lalu bergegas ke sana sendirian, kali ini tanpa Fajar, karena dia merasa Rizal butuh ruang yang nggak terlalu ramai untuk bicara.
Benar saja, di sudut gudang yang gelap, Rizal duduk meringkuk dengan lutut ditekuk, wajahnya basah bekas air mata.
"Rizal."
Rizal tersentak, hampir berdiri untuk lari lagi, tapi Raka buru-buru mengangkat kedua tangannya.
"Aku sendirian. Nggak ada Fajar, nggak ada siapa-siapa. Aku cuma mau dengerin, seperti yang kamu mau bilang semalam."
Rizal menatap Raka lama, seperti menimbang apakah bisa mempercayainya. Akhirnya, dengan suara yang masih gemetar, dia mulai bicara.