SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #20

BAB 20 LUKA YANG TAK TERLIHAT

BAB 20

LUKA YANG TAK TERLIHAT

 

Malam itu, Raka nggak bisa tidur, pikirannya bolak-balik antara harap dan ragu soal janji Rizal. Dia keluar kamar diam-diam, sekadar mencari udara di serambi masjid yang biasanya sepi jam segitu.

Udara malam itu terasa lebih dingin dari biasanya, kabut tipis khas dataran dekat perbukitan kapur mulai turun menyelimuti halaman pesantren, membuat lampu-lampu taman terlihat berpendar samar. Dari kejauhan, sayup terdengar suara anjing kampung yang saling bersahutan, dan sesekali kokok ayam yang salah waktu berkokok karena terkecoh cahaya bulan yang terang.

Ternyata dia nggak sendirian. Di sudut serambi, Yusuf duduk membelakangi pintu masuk, bahunya sedikit bergetar, HP pinjaman tergeletak di sebelahnya dengan layar masih menyala.

Raka nyaris berbalik pergi, nggak ingin mengganggu, apalagi mengingat hubungan mereka yang masih renggang sejak insiden video. Tapi suara isak kecil yang tertahan membuatnya berhenti.

"Yusuf?"

Yusuf tersentak, buru-buru menghapus wajahnya dengan lengan baju. "...Ngapain kamu di sini?"

"Nggak bisa tidur," jawab Raka jujur, memilih untuk tidak langsung pergi meski suasana canggung terasa berat. "Kamu nggak apa-apa?"

"Bukan urusan kamu." Nada Yusuf masih tajam, tapi kali ini terdengar lebih lelah daripada bermusuhan.

Raka ragu sesaat, lalu memutuskan duduk di ujung serambi yang lain, memberi jarak tapi nggak sepenuhnya pergi. Mereka duduk dalam diam selama beberapa menit, sampai akhirnya Yusuf yang memecah keheningan.

"Bapak aku sakit," katanya tiba-tiba, suaranya datar seperti mencoba menahan emosi. "Tadi sore ada telpon dari rumah. Kata Ibu, kondisinya makin parah, tapi katanya belum perlu pulang. Katanya nanti aja kalau udah bener-bener kritis."

Raka terdiam, nggak menyangka arah pembicaraan ini.

"Aku di sini karena beasiswa, sama kayak Doni," lanjut Yusuf, matanya menatap kosong ke arah lapangan gelap. "Bapak aku dulu pengrajin marmer di Campurdarat, udah dua puluh tahun megang pahat. Tapi lima tahun terakhir, sentra marmer kena pukulan berat, kalah saing sama produk cetak dari luar yang lebih murah, ditambah bahan baku onyx makin susah dicari. Banyak pengrajin gulung tikar, termasuk bengkel tempat Bapak kerja."

"Terus?" Raka bertanya pelan.

"Terus Bapak jadi buruh serabutan, apa aja dikerjain. Angkut batu, jadi kuli bangunan, kadang bantu tetangga panen tebu. Penghasilan nggak menentu, dan sekarang malah sakit-sakitan, mungkin gara-gara debu marmer bertahun-tahun." Yusuf menghela napas berat. "Kalau aku pulang sekarang, aku bisa kehilangan beasiswa ini, dan itu berarti aku nggak punya jalan lain buat sekolah lagi."

"Aku nggak tau soal ini, Yusuf. Maaf."

"Ya emang nggak ada yang tau." Yusuf menghela napas panjang. "Waktu itu Kang Burhan milih kamu buat tanding, bukan aku, jujur, itu bukan cuma soal gengsi doang, Ka. Itu satu-satunya kesempatan aku buat nunjukin ke pesantren, ke yayasan, kalau aku layak dipertahanin beasiswanya. Kalau aku menang tanding itu, mungkin aku bisa dapat rekomendasi buat lanjut sekolah tinggi gratis. Pas kamu yang dipilih, rasanya kayak satu-satunya jalan aku ketutup."

Raka merasakan sesuatu yang berat menghantam dadanya, bukan rasa bersalah karena dipilih Kang Burhan, tapi pemahaman baru bahwa kemarahan Yusuf selama ini bukan sekadar keangkuhan senior yang terusik, melainkan ketakutan seorang anak yang berjuang mempertahankan satu-satunya kesempatan hidupnya.

"Aku nggak tau harus bilang apa," kata Raka pelan. "Tapi aku ngerti sekarang, kenapa kamu sekeras itu waktu latihan tanding."

Lihat selengkapnya