BAB 22
PENGAKUAN
Waktu terasa berjalan lambat di lorong itu. Raka, Fajar, dan Doni duduk berjajar di bangku kayu dekat kantor Pak Kiai, sesekali saling pandang tanpa banyak bicara, telinga tetap awas ke arah pintu yang tertutup rapat.
Sesekali terdengar suara samar dari dalam, kadang suara Rizal yang bergetar, kadang suara Pak Kiai yang tenang tapi tegas, meski tidak ada kata yang bisa mereka tangkap jelas. Doni beberapa kali mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai, tanda gelisah yang tidak bisa dia sembunyikan, sementara Fajar sesekali bergumam doa pelan, berharap yang terbaik untuk Rizal di dalam sana.
Hampir empat puluh menit berlalu sebelum akhirnya pintu itu terbuka. Rizal keluar dengan mata bengkak, tapi ada sesuatu yang berbeda di wajahnya, bukan lagi ketakutan yang selama ini menghantuinya, melainkan semacam kelegaan yang lelah.
Di belakangnya, Pak Kiai muncul, wajahnya serius tapi tenang. "Raka. Bisa masuk sebentar?"
Raka berdiri, jantungnya berdegup, dan masuk ke ruangan yang sama tempat dia pernah dipanggil setelah insiden gagal kabur dulu.
"Rizal sudah mengaku semuanya," kata Pak Kiai begitu pintu tertutup, "termasuk soal video, soal caption yang dia buat, dan soal alasannya diam selama ini."
Raka mengangguk pelan. "Saya sudah tahu sebagian, Pak Kiai. Rizal cerita ke saya duluan, sebelum ke sini."
"Saya tahu," Pak Kiai tersenyum tipis. "Rizal juga bilang, kamu yang mendorongnya untuk maju. Bahkan menemaninya sampai depan pintu ini." Pak Kiai menatap Raka lama, penuh pertimbangan. "Kamu sudah membuktikan sesuatu yang lebih penting dari sekadar membersihkan namamu sendiri, Ka. Kamu memilih keadilan, bukan balas dendam."