BAB 25
CERITA KANG BURHAN
Beberapa hari setelah konferensi pers, suasana pesantren perlahan kembali ke ritme normalnya, meski beberapa hal masih dalam proses: investigasi soal insiden kekerasan Yusuf di latihan tanding belum sepenuhnya selesai, dan Kang Burhan masih menunggu keputusan resmi soal statusnya sebagai pelatih.
Sore itu, Raka menemukannya duduk sendirian di pinggir lapangan silat yang sepi,tempat yang sama seperti biasanya, tapi kali ini raut wajah Kang Burhan terlihat lebih terbuka dari yang pernah Raka lihat.
"Kang," Raka duduk di sebelahnya. "Boleh aku dengar cerita lengkapnya sekarang? Yang kemarin baru sepotong."
Kang Burhan menatap Raka lama, seperti menimbang sesuatu, lalu akhirnya menghela napas panjang.
"Aku dari Madura, desa kecil, jauh dari kota. Bapakku petani garam. Aku mondok di sini waktu umur tiga belas tahun, lebih muda dari kamu sekarang."
Raka mendengarkan diam-diam, tidak berani memotong.
"Waktu itu, aku inget banget, perjalanan dari kampungku ke sini naik tiga kali angkutan berbeda, terus jalan kaki hampir dua jam nembus sawah. Bapakku cuma nganter sampai terminal, nggak bisa nganter sampai gerbang kayak Ayahmu, karena harus buru-buru balik jualan garam." Kang Burhan tersenyum kecil, senyum yang sarat kenangan. "Aku inget nangis sepanjang jalan kaki itu, tapi nggak berani nangis kenceng, takut ada yang lihat aku lemah."