BAB 27
RUANG DIALOG
Seminggu setelah pengakuan Rizal dan keputusan berani Kang Burhan untuk bicara ke yayasan, Pak Kiai mengadakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di pesantren: forum dialog terbuka, semua santri dan beberapa ustaz berkumpul di aula besar, duduk melingkar, bukan berbaris seperti biasa.
"Hari ini kita nggak akan ceramah satu arah," kata Pak Kiai membuka forum. "Saya ingin dengar langsung dari kalian, apa yang perlu diperbaiki dari sistem kita, khususnya soal senioritas, dan bagaimana kita bisa hidup berdampingan dengan dunia digital tanpa saling menghancurkan."
Suasana awalnya canggung. Tapi Ustadz Arif, yang duduk di antara para santri, memancing dengan pertanyaan sederhana.
"Siapa yang pernah merasa takut sama senior, sampai-sampai nggak berani ngomong kalau ada yang salah?"
Beberapa tangan mulai naik, ragu-ragu. Lalu lebih banyak lagi. Raka ikut mengangkat tangan, inget malam-malam awal dia di sini.
Kang Burhan, yang duduk di barisan ustadz muda dan senior, berdiri di tengah forum, sesuatu yang tidak direncanakan sebelumnya.
"Saya ingin cerita sesuatu," katanya, suaranya tegas meski Raka bisa melihat sedikit getaran di baliknya. "Dua puluh tahun lalu, saya juga korban senioritas di tempat ini. Bahkan pernah difitnah lewat rekaman yang disebarkan tanpa izin saya. Saya diam saja waktu itu, dan diamnya saya, entah kenapa, malah berubah jadi kekerasan yang saya wariskan ke santri-santri di bawah saya, tanpa saya sadari."
Seluruh aula hening, terpaku mendengar pengakuan yang tidak pernah mereka duga akan keluar dari sosok yang selama ini mereka anggap paling tegas dan tak tergoyahkan.
"Saya minta maaf," lanjut Kang Burhan, "ke semua santri yang pernah merasa tertekan dengan cara saya melatih. Termasuk ke Yusuf."
Semua mata beralih ke arah Yusuf, yang duduk di pojok dengan wajah tertunduk sejak awal forum. Dia mendongak, terkejut namanya disebut.
***
Setelah keheningan sejenak, Yusuf sendiri akhirnya berdiri, suaranya bergetar, suara pertamanya sejak insiden itu terungkap ke publik.