SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #28

BAB 28 PURNAMA DI SUNGAI TAPAN

BAB 28

PURNAMA DI SUNGAI TAPAN

 

Beberapa minggu setelah forum dialog terbuka, keadaan pesantren perlahan kembali stabil. Yayasan resmi mencabut ancaman evaluasi operasional setelah menerima laporan lengkap dari Pak Kiai soal langkah-langkah perbaikan yang sudah dan akan dijalankan. Donatur besar yang sempat menarik diri pun kembali berkomitmen, bahkan menambah dukungan setelah mendengar bagaimana pesantren menangani krisis dengan transparan.

Untuk merayakan berakhirnya masa sulit itu, sekaligus menyambut purnama pertama di bulan baru, Ustadz Arif mengusulkan sesuatu yang tidak biasa: acara kemah kecil di tepi sungai yang mengalir di perbatasan desa, khusus untuk santri kelas atas yang telah menunjukkan kedewasaan selama masa krisis kemarin, termasuk Raka, Fajar, Doni, La Ode, Yusuf, dan Rizal.

"Ini bukan liburan," Ustadz Arif menjelaskan sambil membagikan tikar dan lampu petromak kepada para santri yang berjalan beriringan menyusuri jalan setapak menuju sungai, "tapi refleksi bersama. Kadang, jauh dari tembok pesantren, kita bisa mikir lebih jernih."

Sungai itu tidak jauh dari pesantren, sekitar dua puluh menit berjalan kaki melewati pematang sawah yang mulai menguning menjelang musim panen. Suara gemericik air bercampur dengan kerisik jangkrik dan sesekali kepak sayap burung malam yang terbang rendah di atas permukaan air yang memantulkan cahaya purnama.

***

 

Mereka duduk melingkar di atas tikar yang digelar di bebatuan pinggir sungai, api unggun kecil menyala di tengah, menerangi wajah masing-masing yang sudah jauh berbeda dari beberapa bulan lalu.

Lihat selengkapnya