SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #29

BAB 29 TAHUN-TAHUN TERAKHIR

BAB 29

TAHUN-TAHUN TERAKHIR

 

Dua tahun berlalu sejak forum dialog terbuka itu. Raka, yang dulu masuk sebagai santri baru berusia 17 tahun dengan tas ransel bergantungan kunci klub bola, sekarang berdiri di depan barisan santri baru sebagai salah satu senior yang paling disegani, bukan karena galak, tapi karena caranya membimbing. Di kejauhan lapangan, hamparan sawah Desa Tapan yang menghijau di musim tanam terlihat dari balik pagar pesantren, dan sesekali suara petani memanggil kerbau atau anak-anak desa yang bermain di jalan tanah pinggir kebun tebu terdengar sayup masuk ke area latihan.

"Kuda-kuda dulu, baru mikir soal serangan," katanya ke seorang santri baru yang badannya masih oleng di lapangan silat, persis seperti dirinya dulu. "Aku juga dulu jatuh bangun kayak kamu. Nggak apa-apa."

Di sudut lapangan, Kang Burhan berdiri mengawasi, sesekali ikut turun tangan membetulkan gerakan santri lain, statusnya sebagai pelatih akhirnya dipulihkan penuh setelah evaluasi yayasan, bahkan sekarang dia jadi salah satu penggagas utama program mentoring senior, junior yang berjalan dua tahun ini.

"Kamu makin jago ngajar, Ka," kata Kang Burhan, mendekat setelah sesi latihan selesai.

"Belajar dari yang paling jago, Kang," jawab Raka sambil tersenyum.

Di lapangan yang sama, Yusuf, yang sekarang jadi asisten pelatih setelah menyelesaikan masa evaluasinya dengan baik, terlihat sabar membimbing santri baru lain, jauh dari sosok yang dulu mengancam Raka di lorong gelap. Sesekali dia dan Raka bertukar pandang, saling mengangguk, bahasa isyarat sederhana dari dua orang yang pernah berseteru tapi kini saling menghormati.

Bapak Yusuf, setelah sempat kritis setahun lalu, kini berangsur pulih, kabar yang selalu ditanyakan Raka setiap kali mereka sempat mengobrol santai. "Alhamdulillah, Bapak sekarang udah bisa jalan lagi meski pelan-pelan," kata Yusuf suatu sore, senyumnya lebih lepas dari yang pernah Raka lihat sebelumnya. "Beasiswa aku juga lanjut terus, malah sekarang aku dapat tambahan buat bantu biaya pengobatan Bapak, dari dana yang dikelola yayasan pasca, evaluasi. Nggak pernah kebayang dulu, insiden paling buruk dalam hidupku malah berujung ke pertolongan yang aku butuhin."

***

 

Di sisi lain pesantren, Doni udah nggak lagi jualan gorengan modal dua ribu, sekarang dia mengelola koperasi kecil santri, hasil dari kelas kewirausahaan yang berkembang jadi program resmi pesantren.

"Bang, tolong cek ini," kata Doni suatu sore, nyodorin buku catatan ke Raka yang mampir ke lapak koperasi. "Aku lagi coba itung margin buat produk baru."

Persahabatan mereka, meski pernah retak gara-gara tuduhan salah Raka dulu, sekarang justru terasa lebih kuat ,diuji dan pulih, bukan sekadar tidak pernah goyah sama sekali.

Koperasi yang dikelola Doni bahkan sudah mulai bekerja sama dengan beberapa pedagang di pasar Desa Tapan, menyalurkan hasil kerajinan tangan santri putri, sulaman dan rajutan, untuk dijual di luar, sementara santri putra mengelola hasil kebun kecil yang mereka tanam sendiri di lahan belakang pesantren: cabai, terong, dan kacang panjang yang ditanam berdampingan dengan sawah warga.

Yang paling berkembang pesat justru divisi kerajinan limbah marmer yang diusulkan Yusuf di forum dua tahun lalu. Sekarang, "Marmer Tapan", nama yang mereka sepakati bersama, sudah punya etalase sendiri di koperasi, memajang gantungan kunci, tasbih, dan hiasan meja kecil dari sisa potongan marmer dan onyx yang dibeli langsung dari para pengrajin Campurdarat, termasuk dari bengkel tempat Bapak Yusuf dulu bekerja.

"Bapakku sekarang kerja lagi jadi pengrajin, bukan buruh serabutan lagi," cerita Yusuf bangga suatu sore, menunjukkan salah satu produk hiasan berbentuk kubah masjid mini yang diukir halus dari onyx bening. "Sejak kita mulai beli limbah mereka secara rutin, bengkelnya bisa jalan lagi. Bahkan sekarang mulai nerima pesanan langsung dari kita buat produk yang lebih rumit."

"Kalau dulu aku cuma mikirin untung dari gorengan," kata Doni suatu sore, menatap bangga ke arah kebun yang mulai berbuah, "sekarang aku mikirin gimana caranya santri-santri lain juga bisa punya penghasilan sendiri, nggak cuma ngandelin kiriman orang tua kayak dulu aku pengen banget bisa kayak gitu."

Lihat selengkapnya