BAB 33
KELULUSAN
Hari kelulusan datang dengan langit yang cerah, seolah ikut merayakan. Aula besar pesantren dihias sederhana, spanduk kain putih bertuliskan "Wisuda Santri Angkatan Ke-12, Pondok Pesantren Al-Falah, Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung", kursi-kursi plastik berbaris rapi, dan para wali santri yang datang dari berbagai penjuru, sebagian bahkan harus naik-turun jalan berbukit kapur yang mengelilingi desa untuk sampai ke lokasi.
Raka duduk di barisan depan bersama santri kelas akhir lainnya, mengenakan baju koko putih dan sarung terbaiknya, sorban hijau tersampir di bahu. Di luar aula, angin sepoi membawa aroma khas musim panen dari sawah-sawah sekitar Desa Tapan yang mulai menguning, seolah alam sekitar pun ikut menyiapkan panggung perayaan untuk hari besar ini.
Di sebelahnya, Fajar sibuk membetulkan letak pecinya berkali-kali. "Gue gugup banget, bang."
"Aku juga," jawab Raka jujur, natap ke arah kursi wali santri, mencari sosok Ayahnya di antara kerumunan.
Dia menemukannya, Ayahnya duduk di baris ketiga, mengenakan batik terbaik, wajahnya yang dulu keras dan tegas waktu mengantar Raka tiga tahun lalu, sekarang kelihatan lain. Lebih lembut. Matanya sedikit berkaca-kaca, meski dia mencoba menyembunyikannya dengan sesekali membetulkan kacamata, wajah yang sama yang Raka ingat penuh amarah dan kekhawatiran di halaman pesantren, tujuh bulan sebelum tenang seperti sekarang.
***
Acara dimulai dengan sambutan Pak Kiai, yang mengingatkan semua santri soal perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
"Tiga tahun yang lalu, sebagian dari kalian datang ke sini dengan keterpaksaan," kata Pak Kiai, suaranya menggema di aula. "Hari ini, kalian pulang dengan pemahaman. Itu adalah perjalanan yang tidak semua orang beruntung bisa jalani."
Raka mendengarkan sambil sesekali melirik ke arah teman-temannya, Doni yang sekarang punya rencana melanjutkan usaha koperasi jadi lebih besar di kampung halamannya, La Ode yang mendapat kesempatan jadi asisten pelatih silat di pesantren cabang, Fajar yang berencana melanjutkan ke pesantren tinggi, dan tak jauh dari situ, Rizal yang duduk dengan tenang, jauh berbeda dari sosok gelisah yang dulu bersembunyi di balik rak perpustakaan.
Di barisan santriwati yang lulus tahun ini juga, agak jauh tapi masih terlihat, Aisyah duduk bersama teman-teman satu timnya, mengenakan jilbab putih dan sorban hijau yang sama seperti para santri putra. Sesekali pandangan mereka bertemu sepintas, lalu masing-masing kembali menunduk sopan, bahasa isyarat kecil yang tidak memerlukan kata-kata untuk dipahami dua orang yang telah saling menjaga jarak dengan hormat selama bertahun-tahun.