SANTRI PINGGIRAN

Prasetya
Chapter #34

BAB 34 PULANG

BAB 34

PULANG

 

Kembali ke Surabaya setelah tiga tahun terasa seperti pulang ke kota yang sama tapi dengan mata yang berbeda. Jalanan yang dulu dia lewati tiap hari kelihatan lebih ramai, lebih cepat, lebih bising ,atau mungkin bukan kotanya yang berubah, tapi dirinya.

Hari pertama di rumah, Ayahnya menyerahkan kembali HP lamanya yang disimpan selama tiga tahun, sekarang tertutup debu tipis di kotaknya.

"Ini punyamu," kata Ayah, menyodorkan kotak itu. "Terserah kamu, mau dipakai lagi atau nggak."

Raka menatap kotak itu lama. Dulu, benda ini adalah pusat dunianya, sumber kebahagiaan sekaligus sumber masalah yang mengirimnya ke pesantren, lalu jadi alat yang nyaris menghancurkan reputasinya lewat tangan orang lain. Sekarang, benda itu cuma kelihatan seperti alat biasa, nggak lagi punya kekuatan magis yang dulu dia rasakan, atau kekuatan menakutkan yang sempat dia saksikan bisa ditimbulkannya.

Dia menyalakan HP itu. Ratusan notifikasi lama muncul. Dia gulir sebentar, lalu mematikan layar.

"Belum saatnya," gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.

***

Butuh beberapa minggu buat Raka menyesuaikan diri kembali dengan ritme dunia luar, dunia yang serba cepat, serba instan, jauh dari kesederhanaan rutinitas pesantren yang dulu dia benci tapi ternyata dia rindukan.

Malam-malam pertama di rumah terasa aneh tanpa suara kentongan tanda subuh atau gema takbir dari masjid pesantren. Raka mendapati dirinya bangun sendiri jam tiga pagi, badan sudah terlatih tiga tahun mengikuti jadwal qiyamul lail, meski tidak ada yang membangunkannya lagi. Alih-alih kembali tidur, dia memilih tetap terjaga, melaksanakan shalat malam sendirian di kamar, kebiasaan yang ternyata sudah mengakar jauh lebih dalam dari yang dia sadari.

Ibunya, yang mendapati Raka bangun sepagi itu, sempat khawatir di awal. "Kamu nggak kurang tidur, Le?"

"Nggak, Bu. Udah biasa," jawab Raka sambil tersenyum. "Malah kalau nggak bangun jam segini, badan aku yang aneh rasanya."

Dia juga mendapati dirinya merindukan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dia sadari nilainya, suara kentongan bertalu-talu, obrolan ringan dengan teman sekamar sebelum tidur, bahkan antrean panjang di depan kamar mandi yang dulu sering dia keluhkan. Kerinduan itu diam-diam dia catat di buku catatan pribadinya, sebagai pengingat bahwa kenyamanan yang dulu terasa seperti penjara, ternyata menyimpan kehangatan yang baru benar-benar dia sadari setelah pergi.

Suatu sore, saat berkumpul dengan teman,teman lama SMA,nya yang sekarang udah kuliah, salah satu dari mereka bertanya dengan nada bercanda tapi penasaran.

"Kamu tiga tahun di pesantren, nggak kena gaptek ?"

Lihat selengkapnya