BAB 35
GERBANG
Satu tahun setelah kelulusan, Raka kembali ke pesantren, bukan sebagai santri, tapi sebagai tamu yang diundang khusus untuk mengisi kajian singkat di depan santri-santri baru.
"Aku? Ngisi kajian?" katanya waktu Ustadz Arif meneleponnya beberapa minggu sebelumnya. "Aku kan bukan siapa-siapa, Ustadz."
"Justru karena itu," jawab Ustaz Arif di telepon. "Santri-santri baru butuh dengar dari orang yang pernah ada di posisi mereka. Bukan dari orang yang selalu terlihat sempurna."
Raka akhirnya menerima, dan sekarang dia berdiri di depan gerbang besar berwarna hijau tua itu lagi,gerbang Pesantren Al-Falah di Desa Tapan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, yang tiga tahun lalu membuatnya merasa seperti masuk negara asing tanpa paspor, gerbang yang jadi saksi bisu rencana kaburnya yang gagal, dan gerbang yang tujuh bulan setelah hari pertamanya dulu, pernah dikepung kamera wartawan dan mobil Ayahnya yang datang dengan wajah tegang. Di sepanjang jalan desa menuju gerbang, sawah-sawah yang dulu jadi latar asing baginya kini terasa akrab,petani yang lewat sempat menyapa dengan anggukan kecil, seolah mengenali santri yang dulu sering lewat jalan itu untuk latihan silat sore hari.
Kali ini, dia berjalan masuk dengan langkah yang jauh berbeda, tenang, familiar, seperti pulang ke rumah yang sebenarnya.
***
Di lapangan yang sama tempat dia dulu belajar kuda-kuda pertama kali, sekarang berdiri barisan santri baru, wajah-wajah asing dengan tas ransel dan mata yang belum terbiasa dengan lingkungan baru, persis seperti dirinya dulu.
Salah satu dari mereka, anak laki-laki kurus dengan wajah masih menyimpan raut enggan, duduk sendirian di pinggir lapangan, matanya sesekali melirik ke arah gerbang seolah menghitung kemungkinan kabur.
Raka menghampirinya, duduk di sebelahnya tanpa banyak basa-basi.
"Kamu juga kepikiran kabur, ya?"
Anak itu kaget, menatap Raka dengan curiga. "...Kok tahu?"
"Karena aku juga pernah di posisi kamu. Persis di lapangan ini." Raka tersenyum, menatap ke arah gerbang yang sama. "Namaku Raka. Dulu, tiga tahun lalu, aku juga santri baru yang paling nggak sabar pengen kabur di minggu pertama."