"Seandainya saja aku tidak mengizinkan anak gadisku mondok di pesantren! Masalah ini pasti tidak akan pernah terjadi!" umpat seorang pria paruh baya dengan wajah yang merah padam. Kedua tangannya mengepal erat, hingga urat di lengan terlihat jelas.
***
Satu minggu sebelumnya, seorang gadis berusia tujuh belas tahun bernama Shihah berdiri di depan gerbang pesantren tempatnya mondok.
Ia sedang menunggu mobil angkutan umum yang lewat. Ini kali pertama gadis tersebut pulang sendiri, tanpa dijemput oleh keluarganya.
"Akhirnya waktu perulangan tiba juga," gumam Shihah. Bibirnya merekah. Matanya pun berbinar membayangkan kebahagiaan kedua orang tuanya, saat ia tiba di rumah.
Selang beberapa menit, temannya datang menghampiri. "Shihah, tumben kamu teh tidak dijemput? Emang kamu berani pulang sendiri? Kalau saya mah udah biasa pulang tanpa dijemput."
"Justru itu, gue lagi belajar berani pulang sendiri, meskipun sebenarnya gue takut diculik. Maklum, lah, gue, 'kan, cantik dan mempesona!" cetus Shihah dengan percaya dirinya yang tinggi, setinggi harapan orang tua.
Sang teman—Naura—seketika melebarkan lubang hidungnya, ketika mendengar ucapan Shihah. "Dih, pede pisan! Ya udahlah, kita pergi bareng aja atuh, yuk, ke terminal busnya!"
"Boleh, lah, ayok!" Shihah mengangguk.
Tidak lama kemudian, mobil angkutan umum yang mereka tunggu akhirnya datang. Kedua gadis itu pun langsung bergegas masuk sambil membawa tas masing-masing.
Mereka duduk bersebelahan. Sepanjang perjalanan, Shihah fokus melihat pemandangan dari balik jendela yang terbuka sedikit. Bulu matanya yang panjang seperti daun kelapa pun berkibar karena terkena angin.
Sampai akhirnya mata gadis berhijab segi empat berwarna hitam itu tampak terkantuk-kantuk, lalu ketiduran. Begitu pula dengan teman satu pondoknya. Naura.
Namun, mereka berdua seketika terhenyak bangun karena kaget, saat mendengar pengamen yang bernyanyi dengan suara khas rock and roll.
"Terima kasihku, untuk semua waktumu, yang kau beri!" Pengamen itu bernyanyi dengan bertaruh nyawa. Urat di lehernya sampai terlihat menonjol.
"Allahu Akbar! Kaget gue, Bang, untung nyawa gue enggak langsung kabur dari jasadnya," celetuk Shihah sembari memegang dada.
"Iya, ih, ngagetin wae kamu teh!" Naura menimpali.
"Maaf, Neng, saya nyanyinya terlalu bersemangat!" kata pengamen itu sambil mengacungkan jari metal.
Shihah dan Naura kemudian merogoh saku gamis mereka masing-masing, untuk mengambil uang receh dan diberikan kepada pengamen itu.
Sekitar satu jam lebih, mobil angkutan umum yang mereka tumpangi akhirnya berhenti di terminal bus. Kedua gadis itu lalu turun setelah membayar ongkos.