Santriwati yang Terjerat Kasus Narkotika

Yuli Yastri
Chapter #2

Chapter 2

"Iya, sih, enggak mungkin Kak Syafa punya obat-obatan terlarang kayak gini, tapi bentuk sama warnanya emang mirip sama sabu-sabu." Shihah kembali memperhatikan barang itu.

"Sudahlah, kita teh harus berbaik sangka. Enggak boleh berpikir macam-macam," sahut Naura sembari menutup resleting tas yang dipeluknya dengan rapat sambil melipat ke sekitar untuk memastikan tidak ada yang melihatnya.

Namun, tiba-tiba santri putri yang sedang mereka bicarakan tadi malah muncul dengan wajah yang panik dan terlihat sangat ketakutan.

"Naura, tas kita kayaknya tertukar, ayok kembalikan tas itu!" pinta Syafa sedikit memaksa dan membuat Shihah serta Naura menjadi curiga.

"Iya, tapi tas sayanya mana? Kok, enggak dibawa?" Naura melipat kening.

"Tas kamu ada, kok, nanti saya kasih." Syafa mengulurkan tangannya untuk mengambil tas yang digenggam oleh Naura.

Namun, beberapa pria berotot dan bertubuh kekar malah mendorong Syafa, hingga hampir terjauh. Mereka ingin merebut tas itu.

"Kelamaan! Ayok, berikan tasnya atau aku akan memb*nuh kalian berdua!" gertak salah satu dari mereka dengan mata yang melotot.

Shihah yang ketakutan pun seketika mengajak Naura untuk melarikan diri. "Lari Ipin, lari ...!!!

Naura yang tadinya biasa saja menjadi ketakutan seperti sang teman. Ia lalu berlari tunggang langgang sembari memeluk tas tadi. "Shihah, tungguin atuh, jangan tinggalin saya!"

Orang-orang tadi tinggal diam. Mereka dengan cepat mengejar kedua santri putri itu. "Hey, mau ke mana kalian?!"

Semua yang ada di tempat itu seketika melihat ke arah mereka dan saling pandang satu sama lain, tanpa berbuat apa-apa, karena takut dengan para pria yang dikenal sebagai pemegang daerah tersebut.

Sementara itu, Shihah dan Naura tanpa pikir panjang langsung masuk ke bus yang sedang bersiap melaju. Mereka duduk di kursi paling belakang.

Kedua gadis itu akhirnya bisa lolos, karena bus tersebut langsung melaju dan tidak bisa dikejar oleh para pria tadi. Namun, bukan berarti mereka akan bebas.

Para pria itu tidak kehabisan akal. Mereka mengejar bus yang ditumpangi Shihah dan Naura dengan menggunakan mobil milik sang ketua gank.

"Ya Allah, saya janji tidak akan bikin Emak sama Babeh saya naik darah lagi, tapi tolong selamatkan saya." Shihah berdoa dengan khusyuk.

"Iya, ya Allah, tolong atuh selamatkan kami. Saya teh belum siap kalau harus mati sekarang, soalnya saya belum nikah," cetus Naura yang langsung diprotes oleh Shihah yang duduk di sampingnya.

"Lagi dalam keadaan kayak gini, elu sempat-sempatnya mikir soal nikah, hadeuh!" Shihah menggeleng.

"Biarin we atuh, kamu teh protes wae!" Naura mendelik sinis.

"Ya udahlah, terserah elu aja, selama enggak makan tiang listrik, gue enggak bakal protes!" celetuk Shihah sembari merotasikan mata ke atas.

Lihat selengkapnya