Malam itu, bulan bersinar terang benderang, seolah-olah sengaja mau memamerkan wajahnya yang bulat sempurna. Angin berhembus pelan, membawa aroma daun kering dan tanah basah , suasana yang sempurna banget buat menakut-nakuti orang, setidaknya menurut standar hantu, Pikir si apes.
Di balik pohon beringin raksasa yang dahan-dahannya menjalar seperti tangan-tangan raksasa, ada sosok yang sedang bersiap-siap. Rambutnya panjang dan kusut, menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi. Matanya merah menyala, dan mulutnya terbuka sedikit, menampakkan gigi-gigi yang tajam. Kain putih yang dikenakannya kotor dan berlumuran darah. Tapi bohong. Wkwkwk... Itu adalah saus yang sengaja ditumpahkan di dasternya agar terlihat begitu seram.
Dia adalah kuntilanak pemula yang baru lulus dari Sekolah Hantu dengan nilai pas-pasan. Namanya... eh, sebenarnya dia lupa namanya sendiri. Hantu-hantu lain biasanya memanggilnya 'Si Apes' karena nasibnya yang selalu sial.
"Hari ini harus berhasil," gumamnya sambil merapikan rambutnya yang makin kusut. "Hari ini gue harus bikin satu orang ketakutan setengah mati. Kalau gagal lagi, Kepala Sekolah Hantu pasti akan mengusir gue dari dunia hantu! Kan gak lucu ya? Hihihi..."
Dia menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari balik pohon. Di depannya, ada sebuah rumah tua yang tampak sepi dan menyeramkan. Asap tipis keluar dari cerobong asapnya, dan jendela-jendelanya sebagian besar pecah.
"Aih... Kuntilanak soleha dapat tempat bagus nih buat nakut-nakutin. Rumah yang ideal buat hantu tinggal, dan juga ideal buat menakut-nakutin orang yang lewat. Hihihi... Emang, rezeki gak kemana."
Si Apes langsung melayang dan bertengger di atap rumah tua itu, menunggu calon korban yang lewat dengan sabar. Dia tahu, biasanya ada orang yang lewat di jalan setapak di depan rumah ini pada jam-jam begini. Dan benar saja, tak lama kemudian, dia melihat sosok seorang gadis yang berjalan dengan langkah cepat, seolah-olah sedang dikejar sesuatu.
Gadis itu memakai kaos hitam ketat dan celana jeans robek-robek. Rambutnya dikuncir kuda, dan wajahnya tampak tegas namun masih terlihat begitu cantik, walau pun tanpa riasan apa pun. Itu adalah Sari, gadis barbar yang terkenal di desa itu karena berani melawan siapa saja, bahkan polisi sekalipun. Apalagi hantu. Bagi Sari, si gadis indigo itu, hantu hanyalah camilan sehari-hari yang suka mengganggu.
Si Apes langsung bersemangat.
"Ini kesempatan gue, gak akan datang dua kali. Hihihihi..." pikirnya.
Dia segera mengubah posisinya menjadi lebih menyeramkan, lalu mengeluarkan suara erangan yang menakutkan.
"Uuuuuuu... hihihihi..."
Sari yang sedang berjalan cepat tiba-tiba berhenti. Dia menoleh ke arah sumber suara, dan matanya bertemu dengan mata merah Si Apes.
Si Apes berharap Sari akan berteriak ketakutan dan lari secepat kilat. Tapi apa yang terjadi? Sari malah menatapnya dengan tatapan nyalang, lalu bertanya dengan suara yang keras dan tegas.
"Heh, ngapain lo di situ? Mau nakut-nakutin gue?" tanya Sari dengan nada tinggi.
Si Apes terkejut. ia tidak menyangka gadis itu akan bertanya seperti itu. Biasanya, orang-orang akan langsung lari ketakutan kalau melihatnya.
"Gue... Gue hantu!" jawabnya dengan suara yang sedikit gemetar. "Gue mau menakut-nakuti lo! Kenapa lo gak takut sama gue? Apa gue gak seram?" tanya Si Apes dengan wajah bingung.
Sari malah tertawa terbahak-bahak.
"Hantu? Lo hantu? Buahahaha... Hantu apa lo? Hantu badut apa hantu orgil? Maksudnya orang gila! Kalau gue lihat nih ya dari penampilan lo yang kacau! Rambut kusut, baju kotor, dan mata merah kayak habis nangis seharian. Hantu? Gak percaya gue, mana ada hantu modelan begini. Kalau mau jadi hantu yang seram dong, minimal bajunya robek-robek!" ledek Sari yang belum berhenti tertawa.
Si Apes mengerucutkan bibirnya. Dia tidak pernah dihina seperti ini oleh manusia sebelumnya. Harkat dan martabatnya berasa diinjak-injak oleh gadis yang ada di hadapannya itu.
"Eh, pe'a, gue ini kuntilanak beneran, bukan bohongan," katanya dengan nada membela diri. "Lihat gue baik-baik ya, gue punya rambut panjang, wajah pucat, dan mata merah! Itu semua ciri-ciri kuntilanak yang asli!"
Sari menggeleng-gelengkan kepala.
"Ciri-ciri kuntilanak? Lo salah besar. Kuntilanak yang asli itu cantik, lho. Wajahnya pucat tapi anggun, rambutnya panjang dan hitam legam, dan matanya tajam. Bukan kayak lo yang kayak orang gila yang baru keluar dari rumah sakit jiwa! Buhahaha..." ledek Sari, ia memegang perutnya karena terasa sakit kebanyakan tertawa.
Si Apes merasa hatinya hancur berkeping-keping. Dia sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kuntilanak yang seram, tapi malah dihina habis-habisan oleh gadis ini.
"Lo... Lo gak menghargai gue banget sih," katanya dengan suara yang mulai bergetar. "Gue sudah susah payah belajar jadi kuntilanak yang seram di Sekolah Hantu selama tiga tahun! Dan gue yakin, saat ini gue sudah cukup seram! Tapi kenapa lo malah ketawa? Minimal takutlah, walau pun cuma pura-pura," ucap Si Apes dengan nada sedih.
Sari mendekatinya tanpa ragu, lalu memeriksanya dari atas hingga ke bawah.