Izin yang didaptkan Ela bukanlah izin resmi dari hati. Melainkan izin yang terpaksa diberikan karena suaminya merasa ada sedikit kegagalan dalam dirinya. Hal yang tak pernah terpikirkan bahwa istrinya selama ini punya keluhan soal banyak hal dalam rumah tangga yang tak terungkapkan.
Soal rumah yang masih menumpang, soal keinginannya memberi untuk keluarganya. Dua hal yang mungkin selama ini ia anggap bisa diterima dengan mudah oleh Ela.
Keinginan untuk punya penghasilan sendiri tak main-main. Ela banyak mencari info lowongan kerja. Bukan hanya di sekolah-sekolah, tapi juga di perusahaan. Ia menyadari betul niatnya adalah agar ia punya penghasilan sendiri, maka gaji yang ia harapkan juga inginnya tinggi.
Bulan pertama belum ada tanda-tanda panggilan kerja. Bulan kedua juga sama. Ia menyadari betul kalau mencari pekerjaan itu bukan hal mudah. Ia pernah mengalami sebelumnya. Terlebih, ia bukan sarjana fresh graduate. Sudah pernah vakum selama tiga tahun.
Hingga bulan ketiga, sebuah panggilan dari pabrik kertas memanggilnya untuk wawancara kerja. Meski ia yakin suaminya tak akan berantusias mendengar berita bahagianya, ia tetap bicara.
“Besok aku interview di pabrik kertas pangkalan 2,” kata Ela saat menemani suaminya makan malam.
Ilham hanya mengangguk sambil mengunyah makanannya.
“Faqih dititip di Mamah?” tanyanya setelah menelan makanan yang tadi dikunyah.
“Iya.”
Ilham menghela nafas. Ia bergegas menghabiskan makanannya, kemudian pergi. Tak ada obrolan lain lagi. Ilham memilih bermain dengan Faqih di kamarnya.
Sejak mendapat izin bekerja, rasanya tak ada kabar istimewa dari semua yang sebelumnya ia harapkan. Izin dari suami, kabar wawancara kerja, terasa datang begitu saja tanpa rasa gempita. Biasa saja.
Biarlah, pikir Ela. Setelah bekerja dan punya penghasilan sendiri, ia pasti akan merasakan lagi gempita di hatinya.
Pagi-pagi, setelah suaminya berangkat kerja giliran dirinya bersiap untuk wawancara kerja. Sebelum berangkat, ia pamit pada mertuanya.
Seperti pada mertuanya, Ela juga pamit sambil minta doa pada ibunya. Ela meyakini sekali, meski ia sudah bersuami, doa ibunya tetaplah doa yang tak tertolak. Dan sang ibu tetap mendoakan yang terbaik untuk anaknya tanpa pernah tahu bahwa izin yang didapat sang anak bukanlah izin dari hati.
Jatung Ela berdetak lebih kencang. Ini pertama kalinya ia datang untuk wawancara kerja setelah tiga tahun lulus dengan gelar sarjana. Tetap saja ada rasa gugup menyergap.
Sebuah pabrik yang sangat luas. Namun yang terlihat hanya ruangan tanpa sekat yang diisi oleh mesin-mesin dan gulungan kertas raksasa. Diantar seorang karyawan Ela semakin masuk ke dalam pabrik. Di pojok ruangan besar itu ada sebuah kantor pegawai yang lumayan besar. Ada tiga sekat terlihat sekilas oleh ujung mata Ela.