Sastra Pembawa Janji (Jilid 2)

MS Ransyah
Chapter #1

PROLOG: Antara Debu dan Cahaya

Sebelum baris kode pertama ditulis, dan sebelum mesin-mesin kuantum merebut hak manusia untuk melupakan. Dunia pernah digerakkan oleh sesuatu yang sederhana: janji yang diikat di bawah langit senja.

Di dalam kesunyian The Greenhouse Core, waktu tidak lagi dihitung berdasarkan detak jarum jam mekanis, melainkan melalui denyut konstan cairan Edenite Alloy yang mengalir di sepanjang pipa vakum. Komputer biologis Bio-Server Yggdrasil berdengung dalam frekuensi rendah.

Layarnya menyebarkan pendar hijau zamrud yang ganjil di antara tanaman merambat yang melilit rak-rak server raksasa. Di tempat terisolasi ini, Sastra dan Aria hidup dalam ruang di antara sebuah dimensi hibrida. Di mana memori fotografis absolut mereka tidak lagi sekadar menjadi kemampuan otak, melainkan pondasi dari sebuah teknologi revolusioner bernama Mnemosyne Engine.

Sastra menatap sebuah kubus polimer yang melayang di atas meja mekanis. Perangkat itu bernama The Lauhul-Atsar. Di dalam material kristal magnetik hitam keperakan tersebut, bakteri magnetotaktik (MTB) yang diekstrak dari meteorit surga purba bergerak mengikuti pola biner yang rumit. Perangkat itu tidak menyimpan data mentah; ia merekam jejak jiwa, sebuah algoritma kesadaran murni yang ditulis menggunakan Benang Cahaya Kuantum.

“Kita hampir menyentuh batasnya, Sastra,” bisik Aria dari balik jalinan alat tenun kesadaran. Tangannya bergerak tanpa menyentuh apa pun, namun di ruang virtual, ia sedang menjahit tekstur padang rumput masa lalu mereka dari sebelumnya dengan presisi matematika yang dingin.

Sastra tidak menjawab. Ia menyentuh bekas luka melingkar di pergelangan tangan kiri tempat di mana Plat Kala Cakra biologis tertanam. Ia tahu, fusi antara daging dan digital ini adalah sebuah pertaruhan. Mereka sedang menciptakan sebuah dunia virtual bukan untuk melarikan diri. Melainkan untuk membentengi satu janji lama yang terancam punah oleh dinginnya industrialisasi siber Axiom-Synapse di dunia atas. Di sinilah kisah ini dimulai, di sebuah titik di mana garis batas antara sains mutakhir dan ketetapan spiritual yang luhur mulai mengabur, bersiap melahirkan anomali terbesar dalam sejarah evolusi manusia.

Lihat selengkapnya